FAKTA UNIK BEBEK



Bebek atau itik, adalah nama umum untuk beberapa spesies burung dalam famili Anatidae. Bebek umumnya adalah burung akuatik yang sebagian besar berukuran lebih kecil dibandingkan kerabatnya, angsa dan angsa berleher pendek, dan dapat ditemukan pada perairan air tawar maupun air laut.
Bebek kadang-kadang disamakan dengan beberapa burung air yang berhubungan jauh, namun mirip dalam penampilan.


Beberapa jenis bebek juga dapat melakukan kawin silang, tetapi menghasilkan keturunan yang steril dan tidak bisa memiliki keturunan. Seperti persilangan antara Entog dengan bebek pelari, dapat menghasilkan keturunan yang steril, brati dan tiktok. Secara keseluruhan tubuh bebek berlekuk dan lebar, dan memiliki leher yang relatif panjang, meski tidak sepanjang angsa. Bentuk tubuh bebek bervariasi dan umumnya membulat. Paruhnya berbentuk lebar dan mengandung lamellae, yang berguna sebagai penyaring makanan. Pada spesies penangkap ikan, paruhnya berbentuk lebih panjang dan lebih kuat. Kakinya yang bersisik kuat dan terbentuk dengan baik, dan umumnya berada jauh di belakang tubuh, yang umum terdapat pada burung akuatik. Sayapnya sangat kuat dan umumnya pendek. 

Penerbangan bebek membutuhkan kepakan berkelanjutan sehingga membutuhkan otot sayap yang kuat.
Bebek jantan dari spesies di belahan bumi utara kadang-kadang memiliki warna bulu yang menarik. Spesies dari belahan bumi selatan tidak menunjukkan dimorfisme seksual kecuali Paradise Shelduck di Selandia Baru, yang warna bebek betina lebih cerah daripada bebek jantan. Warna bebek muda, entah itu jantan atau betina, umumnya lebih mirip bebek betina dewasa. 


Bebek memakan makanan yang bervariasi, seperti rumput, tanaman air, ikan, serangga, amfibi kecil, cacing, dan moluska kecil. Bebek penyelam dan bebek laut mencari makanan di kedalaman air. Untuk memudahkan mereka dalam menyelam, kedua jenis bebek tersebut memiliki massa yang lebih besar sehingga mereka lebih sulit untuk terbang.


Bebek dari subfamili Anatinae tidak mampu menyelam jauh. Mereka hanya menyaring makanan dari perairan yang mampu mereka jangkau. Jika mereka menyelam, mereka tidak dapat menyelam sejauh bebek penyelam. Untuk memudahkan penyaringan, mereka memiliki paruh pipih dan lebar.
Di seluruh dunia, bebek memiliki banyak predator. Bebek muda umumnya rentan karena ketidak mampuan mereka untuk terbang. Bebek muda menjadi mangsa ikan besar seperti ikan pike, buaya, dan pemburu air lainnya, termasuk burung pemakan ikan seperti burung kuntul. Sarang bebek sering dirampok oleh predator daratan seperti rubah atau elang.


Bebek dewasa adalah penerbang yang cepat, tetapi dapat ditangkap di atas air oleh pemangsa akuatik. Selama terbang, bebek umumnya aman namun masih terdapat predator yang mengancam seperti manusia dan Falcon Peregrine, yang menggunakan kecepatan dan kekuatan mereka untuk menangkap bebek.

MASA KEJAYAAN KESULTANAN BANTEN



Kesultanan Banten merupakan kerajaan maritim, dan mengandalkan perdagangan dalam menopang perekonomiannya. Monopoli atas perdagangan lada di Lampung, menempatkan penguasa Banten sekaligus sebagai pedagang perantara, dan Kesultanan Banten berkembang pesat, menjadi salah satu pusat niaga yang penting pada masa itu. Perdagangan laut berkembang ke seluruh Nusantara, Banten menjadi kawasan multi-etnis. Dibantu orang Inggris, Denmark dan Tionghoa, Banten berdagang dengan Persia, India, Siam, Vietnam, Filipina, Tiongkok dan Jepang.


Imbauan penanaman kembali lada yang telah dimulai sejak 1636, menemui perlawanan masyarakat di daerah Lampung dan Bengkulu, masyarakat kerajaan-kerajaan di Bengkulu yang berada di bawah kendali kesultanan Banten, seperti Selebar misalnya, melawan imbauan penanaman lada yang mulai terkesan memaksa.


Masa Sultan Ageng Tirtayasa, dipandang sebagai masa kejayaan Banten. Di bawah dia, Banten memiliki armada yang mengesankan, dibangun atas contoh Eropa, serta juga telah mengupah orang Eropa bekerja pada Kesultanan Banten. Dalam mengamankan jalur pelayarannya, Banten juga mengirimkan armada lautnya ke Sukadana, atau Kerajaan Tanjungpura dan menaklukkannya pada tahun 1661. Pada masa ini Banten juga berusaha keluar dari tekanan yang dilakukan VOC, yang sebelumnya telah melakukan blokade atas kapal-kapal dagang menuju Banten.
Pada tahun 1663, Sultan Banten Abdul Fatah mengeluarkan keputusan membolehkan komoditas lada dijual kepada siapa saja, namun lada yang hendak tersebut harus terlebih dahulu dibawa ke Banten, jika keputusan pengaturan penjualan lada ini dilanggar, maka sebagai hukumannya, istri dan anaknya akan dibawa ke Banten.


Sekitar tahun 1680, muncul perselisihan dalam Kesultanan Banten, akibat perebutan kekuasaan dan pertentangan antara Sultan Ageng dengan putranya, Sultan Haji. Perpecahan ini dimanfaatkan oleh VOC yang memberikan dukungan kepada Sultan Haji, sehingga perang saudara tidak dapat dielakkan. Sultan Ageng bersama putranya yang lain, pangeran purbaya dan syekh yusuf, mundur ke arah selatan pedalaman Sunda. Namun pada bulan maret tahun 1683 Sultan Ageng tertangkap kemudian ditahan di Batavia.


Sementara VOC terus mengejar dan mematahkan perlawanan pengikut Sultan Ageng. akhirnya syekh yusuf tertangkap pada desember 1683, dan pangeran purba tertangkap pada februari 1684.
Bantuan dan dukungan VOC kepada Sultan Haji mesti dibayar dengan memberikan kompensasi kepada VOC. pada Maret 1682, wilayah Lampung diserahkan kepada VOC, seperti tertera dalam surat Sultan Haji kepada Laksamana kapal VOC di Batavia yang sedang berlabuh di Banten. Surat itu kemudian dikuatkan dengan surat perjanjian pada Agustus 1682, yang membuat VOC memperoleh hak monopoli perdagangan lada di Lampung.


Setelah meninggalnya Sultan Haji tahun 1687, VOC mulai mencengkeramkan pengaruhnya di Kesultanan Banten, sehingga pengangkatan para Sultan Banten mesti mendapat persetujuan dari Gubernur Jendral Hindia Belanda di Batavia.

Sultan Abu Fadhl Muhammad Yahya, diangkat menggantikan Sultan Haji, namun hanya berkuasa sekitar 3 tahun, selanjutnya digantikan oleh saudaranya, yang dikenal dengan gelar Kang Sinuhun ing Nagari Banten.
Perang saudara yang berlangsung di Banten meninggalkan ketidakstabilan pemerintahan masa berikutnya. Konflik antara keturunan penguasa Banten, maupun gejolak ketidakpuasan masyarakat Banten atas ikut campurnya VOC dalam urusan Banten. Perlawanan rakyat kembali memuncak pada masa akhir pemerintahan Sultan Abul Fathi Muhammad Syifa Zainul Arifin. Akibat konflik yang berkepanjangan, Sultan Banten kembali meminta bantuan VOC dalam meredam beberapa perlawanan rakyatnya, sehingga sejak 1752, Banten telah menjadi vasal dari VOC.
kependudukan.


Kemajuan Kesultanan Banten ditopang oleh jumlah penduduk yang banyak serta multi-etnis. Mulai dari Sunda, Jawa, dan Melayu. Sementara kelompok etnis Nusantara lain dengan jumlah signifikan antara lain Makasar, Bugis dan Bali.
Dari beberapa sumber Eropa disebutkan sekitar tahun 1672, di Banten diperkirakan terdapat antara 100.000 sampai 200.000 orang lelaki yang siap untuk berperang, sumber lain menyebutkan, bahwa di Banten dapat direkrut sebanyak 10.000 orang yang siap memanggul senjata. Namun dari sumber yang paling dapat diandalkan, menyebutkan dari sensus yang dilakukan VOC pada tahun 1673, diperkirakan penduduk di kota Banten yang mampu menggunakan tombak atau senapan berjumlah sekitar 55.000 orang. Jika keseluruhan penduduk dihitung, diperkirakan berjumlah sekitar 150.000 penduduk, termasuk perempuan, anak-anak, dan lansia.


Sekitar tahun 1676, ribuan masyarakat Tiongkok mencari suaka dan bekerja di Banten. Gelombang migrasi ini akibat berkecamuknya perang di Fujian, serta pada kawasan Tiongkok Selatan lainnya. Masyarakat ini umumnya membangun pemukiman sekitar pinggiran pantai dan sungai, serta memiliki proporsi jumlah yang signifikan dibandingkan masyarakat India dan Arab. Sementara di Banten, beberapa kelompok masyarakat Eropa juga telah membangun pemondokan dan gudang di sekitar Ci Banten.


perekonomian.
Dalam meletakkan dasar pembangunan ekonomi Banten, selain di bidang perdagangan untuk daerah pesisir, pada kawasan pedalaman, pembukaan sawah mulai diperkenalkan. Asumsi ini berkembang karena pada waktu itu di beberapa kawasan pedalaman seperti Lebak, perekonomian masyarakatnya ditopang oleh kegiatan perladangan, sebagaimana penafsiran dari naskah sanghyang siksakanda ng karesian, yang menceritakan adanya istilah peladang, pemburu, dan penyadap. Ketiga istilah ini jelas lebih kepada sistem ladang, begitu juga dengan nama peralatannya seperti kujang, patik, baliung, kored, dan sadap.

Pada masa Sultan Ageng antara 1663 dan 1667, pekerjaan pengairan besar dilakukan untuk mengembangkan pertanian. Antara 30 dan 40 km kanal baru dibangun dengan menggunakan tenaga sebanyak 16.000 orang. Di sepanjang kanal tersebut, ribuan hektare sawah baru, dan ribuan hektare perkebunan kelapa ditanam. 30 ribu petani ditempatkan di atas tanah tersebut, termasuk orang Bugis dan Makasar. Perkebunan tebu, yang didatangkan saudagar Tiongkok pada tahun 1620, dikembangkan. Di bawah Sultan Ageng, perkembangan penduduk Banten meningkat signifikan.
pemerintahan.


Setelah Banten muncul sebagai kerajaan yang mandiri, penguasanya menggunakan gelar Sultan, sementara dalam lingkaran istana terdapat gelar Pangeran Ratu, Pangeran Adipati, Pangeran Gusti, dan Pangeran Anom yang disandang oleh para pewaris. Pada pemerintahan Banten terdapat seseorang dengan gelar Mangkubumi, Kadi, Patih serta Syahbandar yang memiliki peran dalam administrasi pemerintahan. Sementara pada masyarakat Banten terdapat kelompok bangsawan yang digelari dengan tubagus, ratu atau sayyid, dan golongan khusus lainnya yang mendapat kedudukan istimewa adalah terdiri atas kaum ulama, pamong praja, serta kaum jawara.


Pusat pemerintahan Banten berada antara 2 buah sungai, yaitu Ci Banten dan Ci Karangantu. Di kawasan tersebut dahulunya juga didirikan pasar, alun-alun dan Istana Surosowan yang dikelilingi oleh tembok beserta parit, sementara di sebelah utara dari istana dibangun Masjid Agung Banten dengan menara berbentuk mercusuar, yang kemungkinan dahulunya juga berfungsi sebagai menara pengawas untuk melihat kedatangan kapal di Banten.


Kesultanan Banten telah menerapkan cukai atas kapal-kapal yang singgah ke Banten, pemungutan cukai ini dilakukan oleh Syahbandar yang berada di kawasan yang dinamakan Pabean. Salah seorang syahbandar yang terkenal pada masa Sultan Ageng bernama Syahbandar Kaytsu.
 

BENARKAH KALAJENGKING SUDAH ADA SEBELUM DINOSAURUS..?

 


Kalajengking dianggap sebagai salah satu hewan berbahaya yang menakutkan. Pasalnya, selain karena dua capitnya dan penyengat beracun di ekornya, kalajengking juga siap mengayunkan ekornya ke arah target dengan kecepatan 130 cm per detik. Padahal sebenarnya, tak semua spesies kalajengking berbahaya. berikut beberapa fakta terkait kalajengking.


1, Kalajengking telah ada di dunia sebelum dinosaurus.
Kalajengking kemungkinan merupakan hewan darat tertua yang masih hidup hingga saat ini. Catatan fosil menunjukkan, kalajengking purba termasuk di antara hewan laut pertama, yang menjelajah ke daratan kering, yang terjadi sekitar 420 juta tahun yang lalu, selama Periode Silur. Sebagai perbandingan, dinosaurus paling awal yang diketahui, berevolusi sekitar 240 juta tahun yang lalu. Sedangkan manusia modern baru berusia sekitar 200.000 tahun, yang berarti kita kira-kira 2.100 kali lebih muda dari kalajengking. 


2, Racun kalajengking bisa mencakup puluhan racun berbeda.
Semua kalajengking memiliki racun, tetapi racun itu beragam dan kompleks. Dari 1.500 spesies kalajengking yang diketahui, hanya sekitar 25 sampai 30 spesies yang diperkirakan mampu membunuh manusia. Namun, 2% spesies itu dapat menimbulkan ancaman serius bagi manusia di beberapa bagian dunia, terutama di mana perawatan medis sulit diakses. Seekor kalajengking tunggal dapat menghasilkan racun dengan lusinan racun individu. serta berbagai macam bahan kimia lain seperti histamin, serotonin, dan triptofan. Beberapa racun lebih efektif pada jenis hewan tertentu, seperti serangga atau vertebrata. Kalajengking menggunakan racun mereka untuk menaklukkan mangsa dan untuk melindungi diri dari pemangsa, seperti kelabang, burung, kadal, hingga mamalia kecil.


3, Kalajengking bisa bertahan setahun tanpa makanan.
Kalajengking memangsa serangga dan laba-laba, tetapi beberapa spesies yang lebih besar mungkin juga memakan kadal kecil atau tikus. Beberapa kalajengking lain adalah predator penyergap, beberapa secara aktif berburu mangsa, dan beberapa bahkan memasang perangkap jebakan. Bagaimanapun mereka mendapatkan makanannya, mereka hanya bisa memakannya dalam bentuk cair, jadi mereka menggunakan enzim untuk mencerna mangsanya secara eksternal, lalu menyedotnya ke dalam mulut kecil mereka. Namun, berkat tingkat metabolisme yang rendah, banyak kalajengking dapat bertahan hidup dalam waktu lama tanpa makanan. Dalam beberapa kasus, diketahui kalajengking bisa tidak makan selama 6 hingga 12 bulan.


4, Racun kalajengking bisa membunuh atau menyelamatkan nyawa.
Terlepas dari potensi bahaya racun kalajengking, penelitian mengungkapkan banyak senyawa bermanfaat yang bersembunyi di racun kalajengking. Bahan kimia dalam racun kalajengking telah terbukti menjadi font untuk biomimikri medis, dan banyak lagi yang menunggu untuk ditemukan. Bahkan senyawa dalam bisa kalajengking lainnya, juga menjanjikan sebagai imunosupresan untuk pengobatan gangguan autoimun.

PEMBENTUKAN AWAL KESULTANAN BANTEN



Kesultanan Banten adalah sebuah kerajaan Islam yang pernah berdiri di wilayah Banten, Indonesia. Berawal sekitar tahun 1526, ketika kesultanan Cirebon dan kesultanan Demak memperluas pengaruhnya ke kawasan pesisir barat Pulau Jawa, dengan menaklukkan beberapa kawasan pelabuhan, kemudian menjadikannya sebagai pangkalan militer, serta kawasan perdagangan sebagai antisipasi terealisasinya perjanjian antara kerajaan Sunda dan Portugis tahun 1522 masehi.


Maulana Hasanuddin, putra Sunan Gunung Jati berperan dalam penaklukan tersebut. Setelah penaklukan tersebut, Maulana Hasanuddin mengembangkan benteng pertahanan yang dinamakan Surosowan, menjadi kawasan kota pesisir yang kemudian hari menjadi pusat pemerintahan, setelah Banten menjadi kesultanan yang berdiri sendiri.
Pernah menjadi pusat perdagangan besar di Asia Tenggara , terutama lada , kerajaan ini mencapai puncaknya pada akhir abad ke-16 dan pertengahan abad ke-17. Pada akhir abad ke-17 pentingnya dibayangi oleh Batavia , dan akhirnya dianeksasi ke Hindia Belanda pada tahun 1813.
Wilayah intinya sekarang membentuk provinsi Indonesia dari Banten. Saat ini, di Banten Lama , Masjid Agung Banten menjadi tujuan penting bagi wisatawan dan peziarah dari seluruh Indonesia dan dari luar negeri.


hampir 3 abad Kesultanan Banten mampu bertahan, bahkan mencapai kejayaan yang luar biasa, di waktu bersamaan penjajah dari Eropa telah berdatangan dan menanamkan pengaruhnya. Perang saudara, dan persaingan dengan kekuatan global memperebutkan sumber daya maupun perdagangan, serta ketergantungan akan persenjataan telah melemahkan hegemoni Kesultanan Banten atas wilayahnya. Kekuatan politik Kesultanan Banten akhirnya runtuh pada tahun 1813, setelah sebelumnya Istana Surosowan sebagai simbol kekuasaan di Kota Intan dihancurkan, dan pada masa-masa akhir pemerintahannya, para Sultan Banten tidak lebih dari raja bawahan dari pemerintahan kolonial di Hindia Belanda.


Pembentukan awal.
Pada tahun 1522, Maulana Hasanuddin membangun kompleks istana yang diberi nama keraton Surosowan, pada masa tersebut dia juga membangun alun-alun, pasar, masjid agung serta masjid di kawasan Pacitan. Sementara yang menjadi penguasa di Wahanten Pasisir, adalah Arya Surajaya, setelah meninggalnya Sang Surosowan pada 1519 Masehi. Arya Surajaya diperkirakan masih memegang pemerintahan Wahanten Pasisir hingga tahun 1526 Masehi.


Pada tahun 1524 Masehi, Sunan Gunung Jati bersama pasukan gabungan dari kesultanan Cirebon dan kesultanan Demak, mendarat di pelabuhan Banten, Pada masa ini tidak ada pernyataan yang menyatakan bahwa Wahanten Pasisir menghalangi kedatangan pasukan gabungan Sunan Gunung Jati, sehingga pasukan difokuskan untuk merebut Wahanten Girang.
Dalam Carita Sajarah Banten dikatakan, ketika pasukan gabungan kesultanan Cirebon dan kesultanan Demak mencapai Wahanten Girang atau Banten Girang, adalah pusat kekuasaan kerajaan Banten pra Islam.

Di sini terdapat batu yang bersinar, yang merupakan tahta Prabu Pucuk Umun, Ratu Pandita Hindu yang terakhir. Di sana juga terdapat dua makam keramat kakak beradik, Ki Mas Jong dan Ki Agus Ju, yang merupakan penduduk Banten Girang pertama yang memeluk Islam dan berpihak kepada Maulana Hasanuddin.
Ki Mas Jong sendiri menurut Sajarah Banten adalah seorang Ponggawa penting, dari Pakuan Pajajaran yang ditempatkan di Banten Girang. Ki Mas Jong adalah pendukung utama Maulana Hasanuddin, dan kemudian diangkat sebagai Mahapatih atau Tumenggung. Ki Mas Jong memainkan peranan penting dalam penaklukan Pakuan Pajajaran pada pertengahan abad ke-16.


Dalam sumber-sumber lisan dan tradisional, diceritakan bahwa penguasa Banten Girang yang terusik dengan banyaknya aktivitas dakwah Maulana Hasanuddin, yang berhasil menarik simpati masyarakat termasuk masyarakat pedalaman Wahanten, yang merupakan wilayah kekuasaan Wahanten Girang, sehingga penguasa Arya Suranggana meminta Maulana Hasanuddin untuk menghentikan aktivitas dakwahnya, dan menantangnya sabung ayam. dengan syarat jika sabung ayam dimenangkan Arya Suranggana, maka Maulana Hasanuddin harus menghentikan aktivitas dakwahnya. Sabung Ayam pun dimenangkan oleh Maulana Hasanuddin, dan dia berhak melanjutkan aktivitas dakwahnya. Arya Suranggana dan masyarakat yang menolak untuk masuk Islam, kemudian memilih masuk hutan di wilayah Selatan.
Sepeninggal Arya Suranggana, kompleks Banten Girang digunakan sebagai pesanggrahan bagi para penguasa Islam, paling tidak sampai di penghujung abad ke-17.
Penyatuan Banten.


Atas petunjuk ayahnya yaitu Sunan Gunung Jati, Maulana Hasanuddin kemudian memindahkan pusat pemerintahan Wahanten Girang ke pesisir di kompleks Surosowan sekaligus membangun kota pesisir.
Kompleks istana Surosowan tersebut akhirnya selesai pada tahun 1526. Pada tahun yang sama juga, Arya Surajaya penguasa Wahanten Pasisir dengan sukarela menyerahkan kekuasaannya atas wilayah Wahanten Pasisir, kepada Sunan Gunung Jati. akhirnya kedua wilayah Wahanten Girang dan Wahanten Pasisir disatukan menjadi Wahanten, yang kemudian disebut sebagai Banten dengan status sebagai provinsi dari kesultanan Cirebon pada 1526 Masehi. kemudian Sunan Gunung Jati kembali ke kesultanan Cirebon, dan pengurusan wilayah Banten diserahkan kepada Maulana Hasanuddin. dari kejadian tersebut sebagian ahli berpendapat bahwa Sunan Gunung Jati adalah Sultan pertama di Banten, meskipun demikian, Sunan Gunung Jati tidak menahbiskan dirinya menjadi sultan di Banten, Alasan-alasan demikianlah yang membuat pakar sejarah berpendapat bahwa, Sunan Gunung Jatilah yang menjadi pendiri Banten, dan bukannya Maulana Hasanuddin.
Menurut catatan dari Joao de Barros, semenjak Banten dan Sunda Kelapa dikuasai oleh kesultanan Islam, Banten lah yang lebih ramai dikunjungi oleh kapal dari berbagai negara.

Banten sebagai kesultanan.
Kesultanan Demak menggelar musyawarah dalam menyikapi peristiwa meninggalnya Pati Unus di Demak. Maulana Yusuf atau Raden Abdullah, selaku anak dari penguasa depati Banten pada saat armada demak Mendaratkan pasukan Banten di teluk Banten, Raden Abdullah diajak pula untuk turun di Banten, untuk tidak melanjutkan perjalanan pulang ke Demak, Para komandan dan penasehat armada yang masih saling berkerabat satu sama lain sangat khawatir kalau Raden Abdullah akan dibunuh dalam perebutan tahta mengingat sepeninggal Pati Unus.


Pasca perjanjian damai Cirebon dengan kerajaan Pajajaran pada tahun 1531, dan setelah kesultanan Banten berdiri pada tahun 1552, Sunan Gunung Jati membagi wilayah antara sungai Angke dan sungai Cipunegara menjadi 2 bagian, dengan sungai Citarum sebagai pembatasnya. sebelah timur sungai Citarum hingga sungai Cipunegara masuk wilayah Kesultanan Cirebon, yang sekarang menjadi Kabupaten Karawang, Kabupaten Purwakarta dan Kabupaten Subang , kemudian sebelah barat sungai Citarum hingga sungai Angke menjadi wilayah bawahan Kesultanan Banten dengan nama Jayakarta.
Pada tahun 1568, Maulana Hasanuddin sebagai penguasa Banten yang juga membawahi wilayah Jayakarta, mengangkat menantunya yaitu Kawis Adimarta suami dari Ratu Ayu Fatimah sebagai penguasa Jayakarta, sebelumnya, sejak peristiwa penaklukan Kelapa pada tahun 1527, wilayah ini berada di bawah kekuasaan Fadillah Khan.


Maulana Hasanuddin juga melanjutkan perluasan kekuasaan ke Lampung. Pada tahun 1530, ketika wilayah adat Lampung Peminggir telah memeluk agama Islam, wilayah adat Lampung Abung pada masa itu masih mempertahankan adat istiadatnya yang bercorak animisme.
Pada sekitar awal abad ke-16 memang ada seorang minak dari kalangan masyarakat adat Lampung Abung yang telah memeluk Islam seperti Minak Sangaji, yang merupakan suami dari Bolan, namun Minak Sangaji diperkirakan menerima Islam bukan dari kesultanan Banten melainkan dari Melaka.

KUMBANG KURA KURA EMAS

.
Bisa dibilang serangga paling bersinar yang pernah kita lihat, kepik emas benar-benar terlihat seperti terbuat dari emas. Serangga dewasa, panjangnya sekitar 5 hingga 8 mm, menyerupai perisai oval transparan berkubah di mana terdapat serangga emas yang sangat mengkilap. Ketika merasa terancam, ia menarik kembali ke dalam kubahnya, menyembunyikan kaki dan antenanya di bawahnya, seperti kura-kura yang ketakutan bersembunyi di cangkangnya.


Warna keemasan cerah berasal dari lapisan cair yang menipis atau mengental, tergantung pada kondisi dan keadaan pikiran kepik. Jika terlalu takut misalnya, cairannya menipis dan lapisan emasnya hilang. Pada musim semi, kepik emas betina dewasa bertelur antara 10 dan 15 telur datar, putih, oval dalam kelompok di bagian bawah daun, sementara kepik hijau bertelur tunggal dalam jumlah yang jauh lebih besar. Telur membutuhkan waktu antara 5 dan 10 hari untuk menetas. Larva segera mulai memakan dedaunan tanaman. Tubuh mereka yang datar dan berbentuk oval berwarna coklat muda, kuning, atau hijau muda, dan mereka memiliki pinggiran berduri. Ketika mereka berganti kulit, mereka akan menempelkan eksoskeleton gudang mereka ke garpu anal yang terletak di segmen perut terakhir.


Seluruh siklus hidup, dari telur hingga kumbang dewasa, membutuhkan waktu sekitar 40 hari untuk menyelesaikannya. Beberapa generasi dimungkinkan setiap tahun, terutama di iklim yang lebih hangat. Kumbang kura-kura dewasa hidup antara 2 dan 3 bulan. Kepik emas ditemukan hampir di mana saja. Beberapa memakan pohon anacua, sementara yang lain menargetkan bindweed, tomat, paprika, jagung, milkweed, terong, kubis, stroberi, zinnias, bunga bulan, morning glory, dan tanaman merambat ubi jalar.


Kepik emas dapat mengubah warna mereka, tidak untuk menyesuaikan lingkungan mereka, tetapi lebih sebagai cerminan suasana hati mereka. Mereka berwarna emas saat istirahat atau saat berkembang biak, dan berubah menjadi oranye dengan bintik-bintik hitam atau menjadi coklat dengan bintik-bintik ketika stres. Perubahan warna juga dapat terjadi karena usia kumbang, terutama saat mendekati akhir masa hidupnya.


Kepik emas dewasa menggunakan beberapa fitur unik untuk melindungi diri dari pemangsa. Mereka dapat menutupi diri mereka dengan pronotum dan elytra yang jelas, yang merupakan struktur seperti pelat bergelang yang melampaui tubuh berbentuk oval mereka. Fitur ini menyulitkan predator untuk menangkapnya. Mereka juga dapat menghindari pemangsa dengan tiba-tiba menjatuhkan daun tempat mereka duduk. Ini adalah tindakan menghilang yang efektif. Seperti kumbang mentimun, mereka juga bisa terbang ke tempat yang aman.

SEJARAH AWAL KESULTANAN CIREBON



Kesultanan Cirebon adalah sebuah kesultanan di daratan utara pulau Jawa bagian barat, pada abad ke-15 dan 16, dan merupakan pangkalan penting dalam jalur perdagangan dan pelayaran antar pulau, yang  berlokasi di pantai utara pulau Jawa.


Kesultanan Cirebon didirikan di Dalem Agung Pakungwati sebagai pusat pemerintahan negara islam kesultanan Cirebon, letak dalem agung pakungwati sekarang menjadi Keraton Kasepuhan.
Kesultanan Cirebon erat kaitannya dengan sosok Sunan Gunung Jati, yang dikenal sebagai salah satu dari sembilan wali yang menyebarkan agama Islam di Lampung dan Jawa bagian barat.
Kesultanan Cirebon mampu bertahan selama 3 abad, sejak diakuinya Walangsungsang sebagai Penguasa Cirebon, pada 1430, hingga terjadinya kisruh kekuasaan, akibat kosongnya posisi Sultan Cirebon sepeninggal Sultan Abdul Karim pada 1677. Tipu daya Mataram masa Amangkurat 1, serta dekatnya sebagian keluarga kesultanan Cirebon dengan Belanda menyebabkan perlahan kekuasaan Cirebon akhirnya runtuh, terlebih perkara derajat paling tinggi diantara keluarga besar kesultanan Cirebon semakin mempercepat keruntuhan kesultanan Cirebon pada akhir abad ke 17. Sejarah asal mula.


Menurut Sulendraningrat yang mendasarkan pada naskah Babad Tanah Sunda dan Atja, pada naskah Carita Purwaka Caruban Nagari, Cirebon pada awalnya adalah sebuah dukuh kecil, yang dibangun oleh Ki Gedeng Tapa, yang lama-kelamaan berkembang menjadi sebuah desa yang ramai dan diberi nama Caruban, karena di sana bercampur para pendatang dari berbagai macam suku bangsa, agama, bahasa, adat istiadat, dan mata pencaharian yang berbeda-beda, dan datang untuk bertempat tinggal atau berdagang.


Di abad ke-14, seorang pangeran Galuh bernama Bratalegawa memeluk Islam, dan memutuskan pindah ke Caruban Girang, serta bermukim disana dengan tujuan untuk menyebarkan Islam kepada penduduk sekitar, menjadikan Cirebon sebagai cikal bakal pusat penyebaran agama Islam di Jawa Barat.
Mengingat pada awalnya sebagian besar mata pencaharian masyarakat adalah sebagai nelayan, maka berkembanglah pekerjaan menangkap ikan, dan rebon atau udang kecil di sepanjang pantai, serta pembuatan terasi, petis, dan garam. Dari istilah air bekas pembuatan terasi, atau belendrang dari udang rebon inilah, berkembang sebutan cai-rebon yang kemudian menjadi Cirebon.


Dengan dukungan pelabuhan yang ramai dan sumber daya alam dari pedalaman, Cirebon kemudian menjadi sebuah kota besar, dan menjadi salah satu pelabuhan penting di pesisir utara Jawa, baik dalam kegiatan pelayaran dan perdagangan di kepulauan Nusantara, maupun dengan bagian dunia lainnya.
Perkembangan awal.
Ki Gedeng Tapa adalah seorang Mangkubumi dari Kerajaan Sing Apura. Kerajaan ini bertugas mengatur pelabuhan Muarajati Cirebon, setelah tidak adanya penerus takhta di kerajaan tetangganya yaitu Surantaka.

Bratalegawa adalah seorang pangeran dari Kerajaan Galuh. Ia sebelumnya telah memeluk Islam di India, dan memutuskan untuk pindah ke Cirebon, serta menyebarkan Islam disana, dikarenakan pengaruh Hindu di Kawali, ibukota Galuh saat itu masih sangat kuat. Sebagai seorang saudagar, Bratalegawa juga berperan dalam memajukan perekonomian Cirebon, dimana Cirebon menjadi pintu utama ekspor dari barang-barang yang dihasilkan oleh Kerajaan Galuh.
Dalam artikel yang berjudul Mengembalikan Perdagangan Islam yang Berkeadilan, dalam acara konferensi Islam Internasional AICIS ke 12 di Surabaya, menjelaskan bahwa patut diduga penggunaan Dinar, Dirham, dan Fulus, telah terjadi pada masa Ki Gedeng Tapa, hal tersebut dikarenakan pada masa itu pelabuhan Muara Jati telah banyak dikunjungi kapal-kapal asing.

Cheng Ho dalam misi diplomatiknya sempat berlabuh di pelabuhan Muara Jati, Cirebon pada tahun 1415, kedatangan Cheng Ho disambut oleh Ki Gedeng Tapa, Cheng Ho kemudian memberikan cenderamata berupa piring yang bertuliskan ayat kursi piring ini sekarang tersimpan di keraton Kasepuhan. Cheng Ho dan anak buahnya kemudian berbaur dengan warga sekitar dan berbagi ilmu pembuatan keramik, penangkapan ikan dan manajemen pelabuhan. Kung Wu Ping yaitu Panglima angkatan bersenjata pada armada Cheng Ho, kemudian menginisiasi pendirian sebuah mercusuar untuk pelabuhan Muara Jati, pembangunannya kemudian mengambil tempat di bukit Amparan Jati.
Pada masa persinggahan laksamana Cheng Ho tersebut, sangat dimungkinkan uang emas dan uang perak dijadikan sebagai alat tukarnya, karena uang emas dan uang perak telah menjadi standar internasional pada masa tersebut terutama di pelabuhan-pelabuhan internasional.

Pemukiman warga muslim Tionghoa pun kemudian dibangun di sekitar mercusuar bukit Amparan Jati, yaitu di wilayah Sembung, Sarindil dan Talang, lengkap dengan masjidnya. Pemukiman di Sarindil ditugaskan untuk menyediakan kayu jati, guna perbaikan kapal-kapal, pemukiman di Talang ditugaskan untuk memelihara dan merawat pelabuhan, pemukiman di Sembung ditugaskan memelihara mercusuar. ke 3 pemukiman Tionghoa tersebut secara bersama-sama ditugaskan pula memasok bahan makanan untuk kapal-kapal, masjid di wilayah Talang sekarang telah berubah fungsinya menjadi sebuah klenteng.

Pada masa kedatangan pangeran Walangsungsang dan nyimas Rara Santang ke Cirebon untuk memperdalam agama Islam, pangeran Walangsungsang kemudian membangun sebuah tempat tinggal yang disebut Gedong Witana pada tahun 1428 Masehi, yang sekarang menjadi bagian dari kompleks keraton Kanoman, kesultanan Kanoman. setelah mendapatkan pengajaran agama yang cukup, pangeran Walangsungsang dan nyimas Rara Santang kemudian menunaikan ibadah haji ke Mekah, di sana nyimas Rara Santang menemukan jodohnya yaitu seorang pembesar Arab, dan menikah sehingga nyimas tidak ikut kembali ke Cirebon.

Sepulangnya dari melaksanakan haji, pangeran Walangsungsang diminta oleh gurunya untuk membuka lahan, guna membuat perkampungan baru sebagai cikal-bakal negeri yang ia cita-citakan, setelah memilih dari beberapa tempat, akhirnya diputuskan perkampungan baru tersebut akan dibangun di wilayah Kebon Pesisir.


Pembangunan tajug Jalagrahan.
Menurut sejarah lisan dan sebagian babad mengenai masalah ini, dikatakan bahwa Pangeran Walangsungsang diperintahkan oleh gurunya, Syekh Datuk Kahfi untuk membuka lahan di wilayah Kebon Pesisir, tetapi dikatakan bahwa di Kebon Pesisir tidak sepenuhnya kosong, karena sudah ada sepasang suami istri yaitu Ki Danusela dan istrinya yang tinggal di sana, akhirnya sebagai bentuk penghormatan, maka Kepala Desa Caruban yang pertama yang diangkat oleh masyarakat baru itu adalah Ki Danusela, dengan gelar Ki Gedeng Alang-alang, sebagai Pangraksabumi atau wakilnya, diangkatlah Raden Walangsungsang, yaitu putra Prabu Siliwangi dan Nyi Mas Subanglarang atau Subangkranjang, yang tak lain adalah putri dari Ki Gedeng Tapa. Setelah Ki Gedeng Alang-alang wafat, Walangsungsang yang juga bergelar Ki Cakrabumi diangkat menjadi penggantinya sebagai kepala desa yang kedua, dengan gelar Pangeran Cakrabuana.


Pada masa pemerintahan ki Danusela sebagai kepala desa Kebon Pesisir, dibangun juga tajug, atau mushola pertama di wilayah tersebut atas prakarsa dari menantunya, yaitu pangeran Walangsungsang, tajug tersebut bernama tajug Jalagrahan.

FAKTA UNIK SAPI



Kita sering meminum susu sapi agar bisa mendukung pertumbuhan dan memperkuat tulang, Karena susu sapi banyak kandungan kalsium yang baik untuk tulang kita.
Sapi atau nama ilmiahnya Bos taurus ini juga sering dimanfaatkan sebagai penarik gerobak. Namun, di beberapa wilayah dan kepercayaan, sapi dianggap menjadi hewan yang suci. video kali ini akan membahas fakta unik sapi.


1, Punya Kemiripan Gen dengan Manusia.
Siapa sangka, hewan pemakan rumput ini ternyata secara genetik hampir mirip dengan manusia.
Meskipun secara bentuk fisik dan pencernaan berbeda, sapi mempunyai jumlah gen yang mirip dengan manusia sebesar 80%.


2, suka rebahan.
Banyak hewan yang suka rebahan, tidak terkecuali sapi. Sapi bisa merebahkan tubuh mereka selama 10 sampai 12 jam per hari.
Mereka juga harus tidur selama 4 jam sambil rebahan, tidak seperti kuda yang bisa tidur sambil berdiri.


3, efek rumah kaca.
Efek rumah kaca adalah istilah untuk menggambarkan kalau bumi semakin panas, karena panas matahari terperangkap oleh lapisan pelindung bumi (atmosfer).
Salah satu penyebabnya adalah gas metana. Gas metana banyak ditemukan dalam sistem pencernaan sapi, sapi bahkan bisa mengeluarkan 250 sampai 500 liter gas metana setiap harinya.


4, Pandangan Mata yang Luas.
Ternyata luas pandangan mata sapi bisa mencapai 360 derajat. Hal ini karena mata sapi terletak pada kedua sisi kepalanya.
Pandangan yang luas ini menyebabkan sapi mudah melihat ke segala arah kecuali belakangnya, untuk menghindari predator.


5, Sistem Pencernaan yang Rumit.
Sistem pencernaan sapi ternyata cukup rumit untuk mengolah makanan yang dimakan. Sapi mempunyai 4 bagian perut, yaitu reticulum atau perut jala, abomasum atau perut sebenarnya, omasum atau perut buku, dan rumen atau perut besar.
Rumput yang dimakan oleh sapi dan dikunyah, akan masuk ke bagian perut rumen dan reticulum, sehabis dari rumen dan reticulum, rumput akan dikeluarkan lagi dan dikunyah kembali.
Lalu, ditelan kembali menuju omasum dan diolah. Setelah diolah di omasum, makanan tersebut akan menuju bagian perut abomasum.
Oleh karena itu, sapi membutuhkan waktu 6 sampai 8 jam untuk mengunyah makanannya dengan baik.


6, Sapi Menyukai Jenis Musik Klasik.
Dikenal sebagai hewan penyuka ketenangan, fakta menarik selanjutnya adalah sapi sebagai penyuka jenis musik klasik. Khususnya yang berjenis perah. Sapi lebih menyukai musik yang lembut dan menenangkan, itulah mengapa hewan ini menyukai musik klasik dan tradisional. Berbeda dengan musik jazz dengan karakter musiknya yang cenderung berontak dan rumit, karena hal itu bisa membuat sapi stress. Kalau sapi stress, maka produksi susu akan menurun. Sedangkan, ketika bahagia dan tenang, maka ia akan memproduksi lebih banyak lagi.


7,  sapi Tidak Hanya Makan Rumput.
Meskipun benar bahwa sapi makan banyak rumput, itu tidak berarti seluruh makanan mereka. Di alam liar, sapi bisa makan sayuran akar, pucuk kecil dan anakan, daun dari beberapa pohon, dan biji bijian.

ASAL USUL KERAJAAN PAJANG



Kesultanan Pajang atau Kerajaan Pajang, adalah sebuah kesultanan yang berpusat di Jawa Tengah sebagai kelanjutan Kesultanan Demak. Kompleks keratonnya pada masa ini tinggal tersisa berupa batas-batas pondasinya saja yang berada di perbatasan Kelurahan Pajang - Kota Surakarta dan Desa Makamhaji, Kartasura, Sukoharjo.


Berita kuno tentang Pajang.
Pada zaman Jawa kuno, kawasan antara Gunung Lawu dan Merapi di daerah pedalaman Bengawan Solo yang bermuara ke Laut Jawa di dekat Gresik, merupakan wilayah yang kurang berpotensi untuk bidang ekonomi dan politik, dibandingkan dengan daerah Mataram di sebelah baratnya. Raja-raja Jawa-Hindu khususnya, yang selama berabad-abad sebelum dan sesudah tahun 1000 masehi, memerintahkan pembangunan candi-candi di Jawa Tengah bagian selatan, lebih memilih tempat singgasana mereka di daerah aliran sungai Opak dan Progo yang bermuara di Lautan Hindia daripada di daerah aliran Bengawan Solo.


Sebagian besar prasasti raja-raja yang masih tersimpan, memberitakan tempat-tempat bersejarah di Jawa Tengah bagian selatan. kebanyakan wilayah tersebut terletak di daerah Mataram dan Kedu atau sekitarnya. Satu catatan yang berhasil diketahui ialah pada Prasasti Panumbangan dari tahun 903 Masehi. Prasasti tersebut menerangkan mengenai penyeberangan sungai dengan perahu tambang, karena terdapat jalur perdagangan yang bersilangan dengan bagian pedalaman Bengawan Solo di Wonogiri saat ini. Berdasarkan prasasti tersebut, dapat disimpulkan bahwa pada abad ke 10, daerah kekuasaan raja-raja Jawa Hindu di Mataram lama juga meliputi daerah hulu Bengawan Solo. Diperkirakan jalur perdagangan lama di dekat daerah Panumbangan yang memotong sungai Bengawan Solo tersebut, merupakan salah satu jalan penghubung antara Jawa Tengah bagian selatan dan daerah di sebelah timur yang terletak di daerah Madiun saat ini. Jalan penghubung antara daerah sepanjang pantai selatan Jawa, yang melewati lereng selatan gunung-gunung besar seperti Lawu, Wilis dan Semeru, memiliki peran penting dalam sejarah politik-ekonomi di Jawa.


Asal-usul.
Nama negeri Pajang telah dikenal sejak zaman Kerajaan Majapahit, yang dijuluki sebagai tanah mahkota pada abad ke 14. Menurut Nagarakretagama yang ditulis tahun 1365, bahwasanya pada zaman tersebut, adik perempuan Hayam Wuruk bernama asli Dyah Nertaja menjabat sebagai penguasa Pajang, bergelar Bhatara i Pajang, atau disingkat Bhre Pajang. Dyah Nertaja merupakan ibu dari Wikramawardhana atau Bhre Mataram, yaitu raja Majapahit selanjutnya.
Berdasar naskah-naskah babad, bahwa negeri Pengging disebut sebagai cikal bakal Pajang. Disebutkan bahwa Pengging sebagai kerajaan kuno yang pernah dipimpin Prabu Anglingdriya, musuh bebuyutan Prabu Baka, raja Prambanan. Kisah ini dilanjutkan dengan dongeng berdirinya Candi Prambanan.

Ketika Majapahit dipimpin oleh Brawijaya, bahwa nama Pengging muncul kembali. Dikisahkan bahwa putri Brawijaya yang bernama Ratna Ayu Pembayun, diculik Menak Daliputih, raja Blambangan, putra Menak Jingga. Muncul seorang pahlawan bernama Jaka Sengara yang berhasil merebut sang putri dan membunuh penculiknya.
Atas jasanya itu, kemudian Jaka Sengara diangkat oleh Brawijaya sebagai adipati Pengging, dan dinikahkan dengan Ratna Ayu Pembayun. Jaka Sengara kemudian bergelar Adipati Andayaningrat.


Berdirinya Pajang.
Pajang terlihat sebagai kerajaan pertama yang muncul di pedalaman Jawa, setelah runtuhnya kerajaan Islam di daerah pesisir.Menurut naskah babad, Andayaningrat gugur di tangan Sunan Ngudung saat terjadinya perang antara Majapahit dan Demak. Ia kemudian digantikan oleh putranya, yang bernama Raden Kebo Kenanga, bergelar Ki Ageng Pengging. Sejak saat itu Pengging menjadi daerah bawahan Kerajaan Demak.


Beberapa tahun kemudian, Ki Ageng Pengging dihukum mati karena dituduh hendak memberontak terhadap Demak. Putranya yang bergelar Jaka Tingkir, setelah dewasa justru mengabdi ke Demak.
Prestasi Jaka Tingkir yang cemerlang dalam ketentaraan membuat ia diangkat sebagai menantu Trenggana, dan menjadi bupati Pajang bergelar Adiwijaya. Wilayah Pajang saat itu meliputi daerah Pengging, sekarang kira-kira mencakup Boyolali dan Klaten, Tingkir atau daerah Salatiga, Butuh, dan sekitarnya.


Sepeninggal Sultan Trenggana tahun 1546, menjadi awal mula permasalahan muncul di Jipang Panolan atau Bojonegoro dan Pajang. Kedua wilayah di Jawa Tengah itu sama-sama menuntut hak atas takhta Demak. Arya Panangsang, keponakan Sultan Trenggana, yang memerintah Kadipaten Jipang berusaha menguasai salah satu kerajaan Islam terbesar di Jawa tersebut. Namun penguasa Pajang, Jaka Tingkir, menghalangi usahanya. Konflik pun meluas.


Diceritakan Serat Kandha, Jaka Tingkir adalah menantu Sultan Trenggana karena menikahi Ratu Mas Cempaka. Jaka Tingkir sebagai Adipati Pajang bergelar Adipati Adiwijaya. Secara keturunan, jelas ia tidak memiliki hak apapun atas Demak. Tetapi tidak lama setelah pemakaman Sultan Trenggana, Jaka Tingkir mengumumkan kekuasaannya di Demak. Pengangkatan mendadak Jaka Tingkir itu dilakukan berdasarkan pilihan rakyat Demak Bintara, dan persetujuan seluruh Adipati bawahan Demak. Ia lalu memerintahkan agar pemerintahan Demak dipindah ke Pajang. Seluruh benda-benda pusaka di Demak juga tak luput dari perpindahan tersebut.


Sebagai pewaris sah Demak, Sunan Prawoto, seharusnya menggantikan kedudukan Sultan Trenggana. Tetapi ia diceritakan tidak ingin naik takhta, dan secara sukarela menjadi Priayi Mukmin, atau Susuhunan di wilayah Prawata adalah desa di kecamatan Sukolilo, Pati, sebuah pasanggarahan yang digunakan raja Demak selama musim hujan. Hal itulah yang kemudian mempermudah Jaka Tingkir untuk mengambil alih kekuasaan. Selanjutnya Sunan Prawoto naik takhta.

3 HEWAN PENANDA KEHADIRAN MAKHLUK HALUS


 

Sebagian masyarakat masih ada yang percaya mitos tentang keberadaan makhluk halus. Kehadiran makhluk halus pun disebut-sebut ditandai dengan beberapa hal, mulai dari wewangian yang aneh, hingga hawa yang tak biasa.
Perilaku hewan di sekitar juga dipercaya menjadi simbol alam yang menunjukkan keberadaan makhluk halus. Bukan tanpa sebab, beberapa jenis hewan memiliki kemampuan pengindera yang berbeda dengan manusia. berikut adalah daftar hewan penanda kehadiran makhluk halus.


1, Cecak.
Tak banyak orang yang suka dengan hewan yang satu ini. Selain jorok, cecak merupakan hewan yang mengandung mitos unik dan masih dipercaya di Indonesia.
Salah satunya, cecak harus segera dibunuh jika cecak jatuh tepat di atas kepala seseorang. Karena jika tidak, salah satu anggota keluarga kita akan meninggal.
Selain itu cecak juga dapat menunjukkan keberadaan makhluk halus. Konon, di situ sedang hadir makhluk halus jika ada cecak di dalam ruangan dan berbunyi.
Namun, kehadiran cecak di rumah bisa menjadi tanda rumah Anda banyak serangga. Cecak biasanya mencari serangga-serangga kecil seperti nyamuk dan laron. Jadi coba periksa sudut-sudut rumah, mungkin saja ada wadah penampung air yang mulai dipenuhi jentik nyamuk.


2, Ayam Jago.
Mitos mengenai ayam jago mungkin kerap didengar. Pernah mendengar ayam jago berkokok di tengah malam atau dini hari?
Menurut mitos, berkokoknya ayam di waktu yang tak biasa berkaitan dengan hal baik. Yakni ayam tersebut sedang melihat malaikat yang turun ke bumi. Walau demikian, penelitian menyebut ayam berkokok di malam dan pagi hari karena hormon hingga pengaruh eksternal seperti cahaya lampu mobil. Berdasarkan riset, ayam memiliki sistem jam sirkadian (sering disebut jam biologis) yang baik. Hal ini yang membuat ayam selalu berkokok ketika waktu fajar.


3, Tokek.
Selain cecak, reptil lainnya yang kurang disukai dan kerap dikaitkan masyarakat Indonesia adalah tokek. Binatang yang satu ini konon berhubungan dengan ilmu sihir.
Bahkan ada juga yang mengatakan, tokek adalah binatang jelmaan jin atau setan. Mitos tokek tidak jauh berbeda dari cecak. Apabila mendengar tokek berbunyi, kabarnya di tempat tersebut sedang ditunggui oleh makhluk halus.
Tokek merupakan hewan yang banyak ditemukan di negara-negara Asia Timur dan Asia Tenggara. Dengan beragam varian tokek, beragam pula mitos dan legenda seputar tokek. Tokek di Tiongkok dan negara-negara sekitarnya dianggap simbol kemakmuran dan kesuburun. Sebab, bentuk tubuh tokek mirip dengan naga.
Bunyi tokek yang sering Anda dengar sendiri merupakan suara untuk memanggil pasangan. Berdasarkan sejumlah penelitian, tokek mengeluarkan bunyi saat memasuki musim kawin.

SEJARAH KERAJAAN DEMAK


 Kesultanan Demak atau Kerajaan Demak, adalah kerajaan Islam Jawa yang berdiri pada perempat akhir abad ke-15 di Demak. Demak sebelumnya merupakan kadipaten yang tunduk pada Majapahit, yang telah melemah saat itu untuk beberapa tahun sebelum melepaskan diri. Menurut cerita tradisional Jawa yang populer, kerajaan ini didirikan oleh Raden Patah, anak raja Majapahit terakhir.

Demak memainkan peran penting dalam mengakhiri pemerintahan Majapahit, dan penyebaran Islam di Jawa. Sepanjang setengah awal abad ke-16, Demak berada pada puncak kejayaannya di bawah pemerintahan Trenggana. Pada masanya, ia melakukan penaklukkan ke pelabuhan-pelabuhan utama di Pulau Jawa, hingga ke pedalaman yang mungkin belum tersentuh Islam. Salah satu pelabuhan yang ditaklukkan Demak adalah Sunda Kelapa, yang pada waktu itu berada dalam kekuasaan Kerajaan Sunda. Hubungan aliansinya dengan Imperium Portugal sejak 1511, menjadi ancaman bagi Demak. Pada 1527, pasukan dari Demak dan Cirebon, yang dipimpin oleh Fatahillah melancarkan serangan sukses ke Sunda Kelapa yang memukul mundur Portugal dan Sunda. Fatahillah kemudian mengganti nama pelabuhan tersebut menjadi Jayakarta. Di luar Jawa, Demak memiliki kekuasaan atas Jambi dan Palembang di Sumatra bagian timur.

Kerajaan mulai mengalami kemunduran ketika Trenggana terbunuh dalam perang melawan Panarukan pada 1546. Sunan Prawoto kemudian naik takhta menggantikannya, tetapi dibunuh pada tahun 1547, oleh suruhan Arya Panangsang, penguasa Jipang yang ingin menjadi raja Demak. Perang perebutan takhta segera terjadi dan berakhir dengan dibunuhnya Arya Penangsang oleh Joko Tingkir, penguasa Pajang, sebagai hukuman. Joko Tingkir kemudian memindahkan kekuasaan Demak ke Pajang, tempat kekuasaannya. Dengan demikian Kerajaan Demak berakhir dengan didirikannya Kesultanan Pajang.
Toponimi

Demak bermula dari pemukiman yang bernama Bintoro. Pemukiman ini aslinya adalah hutan, yang dibuka oleh Raden Patah setelah ia berguru pada Sunan Ampel dan menjadi menantunya. Di hutan tersebut, terdapat rumput gelagah yang baunya wangi. Karena itu, tempat tersebut juga dikenal dengan nama Glagahwangi.

Ada beberapa usul mengenai asal usul nama Demak. Menurut Poerbatjaraka, namanya berasal dari bahasa Jawa yaitu delemak yang berarti rawa. Menurut Hamka, namanya berasal dari bahasa Arab, yaitu dimak yang berarti mata air atau air mata. Menurut sejarawan lainnya, yaitu Sutjipto Wiryosuparto, namanya berasal dari sebuah kata dalam bahasa Kawi yang berarti hadiah atau pusaka.

Asal usul Kerajaan Demak tidak diketahui dengan jelas. Kota Demak tampaknya didirikan pada perempat akhir abad ke-15 oleh seorang Muslim, kemungkinan besar seorang Tionghoa yang bernama "Cek Ko-po". Anaknya mungkin adalah orang yang oleh Tomé Pires dalam Suma Oriental-nya sebut sebagai Rodim.

Cerita tradisional Mataram yang lebih populer menceritakan, bahwa Demak didirikan oleh Raden Patah, anak raja Majapahit terakhir, Meskipun sejarawan menyatakan bahwa ceritanya tidak dapat dipercaya, mereka menyimpulkan bahwa nenek moyang para penguasa Demak tampaknya merupakan seorang pendatang Muslim asal Tiongkok, yang pertama kali mendarat di Gresik dan kemudian menetap di Demak.

Pada masa kepemimpinan pati unus, Demak merasa terancam dengan pendudukan Portugis di Malaka. Kemudian beberapa kali ia mengirimkan armada lautnya untuk menyerang Portugis di Malaka.

trenggana berjasa atas penyebaran Islam di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Di bawahnya, Demak mulai menguasai daerah-daerah Jawa lainnya, seperti merebut Sunda Kelapa dari Pajajaran, serta menghalau tentara Portugis yang akan mendarat di sana pada tahun 1527, juga menaklukkan hampir seluruh Pasundan atau Jawa Barat, serta wilayah-wilayah bekas Majapahit di Jawa Timur seperti Tuban, Madura, Madiun, Surabaya, Pasuruan, Kediri, Malang, dan Blambangan, serta kerajaan Hindu terakhir di ujung timur pulau Jawa. Trenggana meninggal pada tahun 1546, dalam sebuah pertempuran menaklukkan Pasuruan, dan kemudian digantikan oleh Sunan Prawoto. Salah seorang panglima perang Demak waktu itu adalah Fatahillah, pemuda asal Pasai, yang juga menjadi menantu raja Trenggana. Sementara Maulana Hasanuddin, putra Sunan Gunung Jati diperintah oleh Trenggana untuk menundukkan Banten Girang. Kemudian hari keturunan Maulana Hasanudin menjadikan Banten sebagai kerajaan mandiri. Sedangkan Sunan Kudus merupakan imam di Masjid Demak juga pemimpin utama dalam penaklukan Majapahit sebelum pindah ke Kudus.

Suksesi raja Demak ketiga tidak berlangsung mulus, terjadi persaingan panas antara Pangeran Surowiyoto atau Pangeran Sekar, dan Trenggana yang berlanjut dengan di bunuhnya Pangeran Surowiyoto oleh Sunan Prawoto. Peristiwa ini terjadi di tepi sungai saat Surowiyoto pulang dari Masjid sehabis sholat Jum'at. Sejak peristiwa itu Surowiyoto dikenal dengan sebutan Sekar Sedo Lepen, yang artinya sekar gugur di sungai. Pada tahun 1546, Trenggana wafat dan tampuk kekuasaan dipegang oleh Sunan Prawoto, anak Trenggana, sebagai raja Demak keempat, akan tetapi pada tahun 1547, Sunan Prawoto dan isterinya dibunuh oleh Rungkud, pengikut Pangeran Arya Penangsang, putra Pangeran Surowiyoto. Pangeran Arya Penangsang adalah Adipati Jipang pada waktu itu, Adipati Arya Penangsang adalah murid terkasih dari Sunan Kudus. Diceritakan bahwa Pengikut Arya Penangsang juga membunuh Pangeran Hadiri, penguasa Jepara atau Kalinyamat (Suami Ratu Kalinyamat). Hal ini menyebabkan adipati-adipati di bawah Demak memusuhi Pangeran Arya Penangsang, salah satunya adalah menantu Sultan Trenggono Joko Tingkir atau Sultan Hadiwijaya.

Puncak dari peristiwa ini Arya Penangsang dibunuh oleh Sutawijaya anak angkat Joko Tingkir yang tergabung dalam Pasukan Pajang saat menyerang Jipang. Dengan terbunuhnya Arya Penangsang, maka berakhirlah era Kesultanan Demak. Joko Tingkir memindahkan pusat pemerintahan ke Pajang dan mendirikan Kerajaan Pajang atau Kesultanan Pajang.

Fakta Mitos Hewan Yang Masih Terkenal Di Masyarakat


 Di Indonesia, ada banyak mitos yang berkembang dan dipercaya oleh masyarakat. Misalnya, kupu-kupu masuk rumah berarti rumah tersebut akan kedatangan tamu. Atau gadis yang duduk di depan pintu akan kesulitan mendapatkan jodoh.
Ada pula mitos seputar hewan yang dipercaya oleh banyak orang, tetapi ternyata keliru. di video kali ini akan membahas fakta mitos yang masih terkenal di masyarakat.


1, Mitos hiu bisa mencium aroma setetes darah dalam jarak bermil-mil.
Faktanya, Indra penciuman hiu memang punya kepekaan tinggi. Mereka bisa mendeteksi bau hingga 1 bagian darah per 10 miliar bagian air. Ini tergantung bahan kimia dan spesies hiu.
Namun, terlalu mustahil hiu bisa mencium aroma setetes darah dari jarak bermil-mil. Bila diibaratkan, 1 bagian darah per 10 miliar air itu sama seperti setetes darah di kolam renang ukuran olimpiade, bukan seluas samudra.


2, Mitos jerapah hanya tidur 30 menit dalam sehari.
Faktanya, Sebagai hewan diurnal, jerapah punya pola tidur yang cukup normal. Hewan berleher panjang ini tidur sekitar 4,6 jam per hari untuk menghindari predator.
Menurut penelitian di sebuah kebun binatang di Belanda, ada dua cara jerapah tidur, Yakni berdiri tegak tetapi tidak bergerak sembari memiringkan sedikit lehernya ke depan dianggap sebagai tidur siang ringan.
Sementara, berbaring dengan kaki terlipat dan leher bersandar ke tubuhnya dianggap sebagai tidur nyenyak. Berbaring membuatnya rentan dari serangan singa, predator utamanya.


3, Mitos tikus sangat menyukai keju.
Faktanya, Tikus mengonsumsi biji-bijian, kacang-kacangan, buah-buahan, dan sayuran untuk bertahan hidup.
Menurut studi yang dilakukan di tahun 2006, menemukan bahwa tikus cenderung mengangkat hidung pada keju daripada makanan lain karena baunya yang kuat. Penelitian ini juga mengatakan bahwa keju kemungkinan berbahaya bagi makhluk kecil seperti tikus.
Tikus adalah hewan yang oportunistik. Artinya, mereka tidak pilih-pilih makanan, bahkan sisa-sisa di tempat sampah sekalipun. Walau tidak ada keju, mereka masih bisa bertahan.


4, Mitos gajah takut pada tikus.
Faktanya, Gajah takut pada lebah.
Ketika menjumpai serangga kecil ini, mereka akan mengepakkan telinganya dan mungkin terlihat panik ketika mendengar dengungan lebah. Terutama, lebah Afrika yang berkerumun dan terkenal agresif.
Lebah ini mungkin menyengat area sensitif gajah, seperti belalai, mulut, dan mata. Ketakutan gajah dimanfaatkan petani dengan menempatkan lebah untuk melindungi tanaman dan menjauhkan gajah dari lahan pertanian.


5, Mitos burung unta mengubur kepalanya di pasir saat merasa terancam.
Faktanya, Burung unta tidak mengubur kepalanya di pasir saat ketakutan atau merasa terancam. Itu adalah caranya menggali lubang dangkal di pasir untuk dijadikan sarang bagi telurnya. Justru, jika burung unta merasakan bahaya dan tidak bisa melarikan diri, ia akan jatuh ke tanah dan tetap diam.

Berdirinya Kerajaan Malaka



Kesultanan Melaka atau Kesultanan Malaka adalah sebuah Kerajaan Melayu yang pernah berdiri di Melaka, Malaysia. Kerajaan ini didirikan oleh Parameswara, kemudian mencapai puncak kejayaan pada abad ke 15, dengan menguasai jalur pelayaran Selat Melaka, sebelum ditaklukan oleh portugal tahun 1511. Kejatuhan Malaka ini menjadi pintu masuknya kolonialisasi Eropa di kawasan Nusantara.
Kerajaan ini tidak meninggalkan bukti arkeologis yang cukup untuk dapat digunakan sebagai bahan kajian sejarah. Masih menimbulkan kerumitan akan sejarah awal Malaka, terutama hubungannya dengan perkembangan agama Islam di Malaka, serta rentang waktu dari pemerintahan masing-masing raja Malaka. Pada awalnya Islam belum menjadi agama bagi masyarakat Malaka, tetapi perkembangan berikutnya Islam telah menjadi bagian dari kerajaan ini yang ditunjukkan oleh gelar sultan yang disandang oleh penguasa Malaka berikutnya.


Setelah dilakukan penelitian sejarah, baik dari buku Sejarah Melayu karya Tun Sri Lanang, buku Hikayat Raja-raja Pasai karya Syekh Nuruddin Raniri, buku Riwayat Negeri Malaka dalam bahasa Portugis karya Barros pada tahun 1553, catatan orang Tionghoa, dan juga dengan Babad Tanah Jawa Pararaton, dapat diambil kesimpulan bahwa pada permulaan abad ke 14, negeri Malaka masih di bawah kekuasaan Siam. di sana belum ada kerajaan. Akan tetapi, di Tanah Jawa, telah muncul Kerajaan Hindu Majapahit, yang menjadi lawan kuat Siam dalam memperebutkan kekuasaan di Selat Malaka, terutama pada tahun 1331, ketika Patih Gajah Mada mendapat kepercayaan tinggi dari Batara Majapahit. Setelah Patih Gajah Mada naik, digariskanlah politik yang tegas, yaitu memperluas kekuasaannya dan merebut wilayah kekuasaan Siam. Majapahit pun menyerang Palembang, Singapura dan Samudra Pasai. Padahal, saat itu, di Singapura masih berdiri sebuah kerajaan Hindu.


Dengan jatuhnya Kerajaan Melayu Hindu di Singapura karena serangan Majapahit, Raja Singapura berangkat melarikan diri dari Singapura. Raja tersebut bernama Permaisura. Mula-mula, ia bersembunyi ke sebuah kampung di sebelah utara Pulau Singapura. Dari sana, ia menyeberang ke Semenanjung Melayu melalui Johor. Kemudian, terus ke negeri Muar. Dari Muar, diteruskannya perjalanan ke Sungai Ujung, hingga akhirnya ia sampai di Malaka. Pada saat itu, Malaka merupakan wilayah kekuasaan Siam.


Saat itu, ia mendapati penduduk Malaka sudah mulai ramai, baik dari orang Pasai, Arab, Persia, Gujarat dan Malabar. Kemudian, Sidi Abdul Aziz, seorang ulama yang berasal dari Jeddah, datang ke Malaka, mengajak ia untuk masuk Islam, kemudian Ajakan itu diterima. Sidi Abdul Aziz menganjurkan kepada ia untuk mengganti namanya menjadi Sultan Muhammad Syah. Ia memeluk Islam sekitar tahun 1384. Sejak itu, ia resmi menjadi sultan negeri Malaka.

Sementara itu, berdasarkan Sulalatus Salatin dan Suma Oriental Kerajaan ini didirikan oleh Parameswara seorang pangeran yang berasal dari palembang yang melarikan diri karena invasi angkatan laut Majapahit. Kronik Dinasti Ming juga mencatat Parameswara sebagai pendiri Malaka, mengunjungi Kaisar Yongle di Nanjing pada tahun 1405, dan meminta pengakuan atas wilayah kedaulatannya. Sebagai balasan upeti yang diberikan, Kaisar Tiongkok menyetujui untuk memberikan perlindungan pada Malaka, kemudian tercatat ada sampai 29 kali utusan Malaka mengunjungi Kaisar Tiongkok. Pengaruh yang besar dari relasi ini adalah Malaka dapat terhindar dari kemungkinan adanya serangan Siam dari utara, terutama setelah Kaisar Tiongkok mengabarkan penguasa Ayutthaya akan hubungannya dengan Malaka. Keberhasilan dalam hubungan diplomasi dengan Tiongkok memberi manfaat akan kestabilan pemerintahan baru di Malaka, kemudian Malaka berkembang menjadi pusat perdagangan di Asia Tenggara, dan juga menjadi salah satu pangkalan armada Ming.


Laporan dari kunjungan Laksamana Cheng Ho pada tahun 1409, mengambarkan Islam telah mulai dianut oleh masyarakat Malaka, sementara berdasarkan catatan Ming, penguasa Malaka mulai menggunakan gelar sultan muncul pada tahun 1455. Sedangkan dalam Sulalatus Salatin, gelar sultan sudah mulai diperkenalkan oleh penganti berikutnya, Raja Iskandar Syah, tokoh yang dianggap sama dengan Parameswara oleh beberapa sejarahwan. Sementara dalam Pararaton disebutkan, terdapat nama tokoh yang mirip, yaitu Bhra Hyang Parameswara sebagai suami dari Ratu Majapahit, Ratu Suhita. Namun kontroversi identifikasi tokoh ini masih diperdebatkan sampai sekarang.


Pada tahun 1414, Parameswara digantikan putranya, Megat Iskandar Syah yang memerintah selama 10 tahun, kemudian menganut agama Islam, dan digantikan oleh Sri Maharaja atau Sultan Muhammad Syah. Putra Muhammad Syah yang kemudian menggantikannya, Raja Ibrahim, mengambil gelar Sri Parameswara Dewa Syah. Namun masa pemerintahannya hanya 17 bulan, dan dia mangkat karena terbunuh pada 1445. Saudara seayahnya, Raja Kasim, kemudian menggantikannya dengan gelar Sultan Mudzaffar Syah. 


Pada masa pemerintahan Sultan Mudzaffar Syah, Malaka melakukan ekspansi di Semenanjung Malaya dan pesisir timur pantai Sumatra, setelah sebelumnya berhasil mengusir serangan Siam. Di mulai dengan menyerang Aru yang disebut sebagai kerajaan yang tidak menjadi muslim dengan baik. Penaklukan Malaka atas kawasan sekitarnya ditopang oleh kekuatan armada laut yang kuat pada masa tersebut, serta kemampuan mengendalikan Orang Laut yang tersebar antara kawasan pesisir timur Pulau Sumatra sampai Laut Tiongkok Selatan. Orang laut ini berperan mengarahkan setiap kapal yang melalui Selat Malaka untuk singgah di Malaka, serta menjamin keselamatan kapal-kapal itu sepanjang jalur pelayarannya setelah membayar cukai di Malaka.

Di bawah pemerintahan raja berikutnya pada tahun 1459, Sultan Mansur Syah, Melaka menyerbu Kedah dan Pahang, dan menjadikannya negara vassal. Lalu Kampar Pekan Tua, dan Siak Gasib juga takluk. Sementara kawasan Indragiri dan Jambi adalah hadiah dari Batara Majapahit untuk Raja Malaka. Sultan mansur Syah memerintah tidak begitu lama, karena diduga ia diracun sampai meninggal, dan kemudian digantikan oleh putranya, Sultan Mahmud Syah.


Hingga akhir abad ke-15, Malaka telah menjadi kota pelabuhan kosmopolitan dan pusat perdagangan dari beberapa hasil bumi seperti emas, timah, lada dan kapur. Malaka muncul sebagai kekuatan utama dalam penguasaan jalur Selat Malaka, termasuk mengendalikan kedua pesisir yang mengapit selat itu.
Pada tahun 1511, saat ibu kota kerajaan tersebut diserang pasukan Portugal di bawah pimpinan Pewaris, Serangan dimulai pada 10 Agustus 1511, dan pada 24 Agustus Malaka jatuh kepada Portugal. Sultan Mahmud Syah kemudian melarikan diri ke Bintan dan menjadikan kawasan tersebut sebagai pusat pemerintahan baru. Perlawanan terhadap penaklukan Portugal berlanjut, pada bulan Januari 1513, Pati Unus dengan pasukan dari Demak berkekuatan 100 kapal dan 5000 tentara, mencoba menyerang Malaka, tetapi serangan ini berhasil dikalahkan oleh Portugal. Selanjutnya Portugal menyisir dan menundukkan kawasan antara Selat Malaka.


Sejak tahun 1518 sampai 1520, Sultan Mahmud Syah kembali bangkit dan terus melakukan perlawanan dengan menyerang kedudukan Portugal di Malaka. Namun usaha Sultan Malaka merebut kembali Malaka gagal. Di sisi lain Portugal juga terus memperkukuh penguasaannya atas jalur pelayaran di Selat Malaka. Pada pertengahan tahun 1521, Portugal menyerang Pasai, sekaligus meruntuhkan kerajaan yang juga merupakan sekutu dari Sultan Malaka.


Selanjutnya pada bulan Oktober 1521, pasukan Portugal di bawah pimpinan de Albuquerque mencoba menyerang Bintan untuk meredam perlawanan Sultan Malaka, tetapi serangan ini dapat dipatahkan oleh Sultan Mahmud Syah. Namun dalam serangan berikutnya Portugal berhasil membumihanguskan Bintan, dan Sultan Malaka kemudian melarikan diri ke Kampar Pekan Tua, tempat dia wafat 2 tahun kemudian. Berdasarkan Sulalatus Salatin, Sultan Mahmud Syah kemudian digantikan oleh putranya Sultan Alauddin Syah yang kemudian tinggal di Pahang beberapa saat sebelum menetap di Johor. Kemudian pada masa berikutnya, para pewaris Sultan Malaka setelah Sultan Mahmud Syah, lebih dikenal disebut dengan Sultan Johor. 

Hewan Dengan Kemampuan Unik

 

Seperti yang kita ketahui, beberapa hewan memiliki kemampuan unik, seperti binatang yang dapat mengubah warna kulitnya, memutuskan bagian tubuhnya, hingga indra penglihatan yang berfungsi di malam hari.
Namun selain itu, masih banyak kemampuan unik lainnya dan jarang diketahui. Berikut adalah daftar hewan yang mempunyai kemampuan unik.


1, Ikan Badut.
Makhluk hidup yang satu ini dapat mengubah jenis kelamin dari jantan ke betina untuk memastikan sekelompok ikan tetap berkembangbiak.
Ikan badut hidup secara berkelompok di antara kumpulan anemon laut. Kelompok tersebut terdiri dari satu jantan dan satu betina yang tengah berkembang biak, serta sejumlah ikan jantan yang lebih kecil, dan belum bisa bereproduksi.
Nantinya, jika betinanya mati, maka ikan badut jantan akan mengubah kelaminnya menjadi betina.


2, Bintang Laut.
Meski mulut hewan ini kecil dan membuatnya sulit untuk mencerna makanan, kemampuan uniknya yaitu perut dari bintang laut berfungsi sebagai alat pencerna makanan.
Sehingga, ketika makanannya masuk ke dalam mulut, ukurannya menjadi lebih kecil dan normal untuk ia cerna. Perut bintang laut akan memanjang ketika melahap mangsanya.
Bintang laut juga memiliki cairan pekat yang berfungsi untuk mencairkan mangsanya agar terserap secara sempurna melalui perut. Setelahnya, perut bintang laut akan kembali normal.


3, Opossum.
Opossum adalah hewan mamalia yang berukuran sebesar kucing. Kemampuan unik yang mereka miliki adalah menetralkan bisa ular dengan protein serum yang ada di dalam darahnya.
Studi menunjukkan bahwa kemampuan ini muncul ketika opossum memangsa ular berbisa. Opossum memang dikenal suka memangsa beberapa jenis ular.
Bahkan, pada sebuah penelitian ditemukan potensi anti-bisa dari opossum. Penelitian itu menunjukkan tikus yang diinjeksikan oleh protein serum dari darah opossum membentuk kekebalan terhadap bisa ular derik.


4, Kuda Nil.
Badak air atau kuda Nil dapat menghasilkan sekresi pada kulitnya sebagai tabir surya alami dan antibiotik. Cairan yang dikeluarkan berwarna merah dan sering disebut keringat darah. Namun, sekresi tersebut tidak ada hubungannya dengan darah.
Cairan itu merupakan kombinasi dari dua pigmen. Warna tersebut muncul setelah keringat kudanil bereaksi dengan udara dan membentuk cairan kental berwarna merah tua yang melindunginya dari sinat ultraviolet matahari.


5, Kecoa.
Kemampuan unik yang dimiliki oleh kecoa cukup mencengangkan. Faktanya, berdasarkan hasil eksperimen, mereka dapat hidup selama berminggu-minggu meski tanpa kepala.
Kecoa dapat bertahan hidup tanpa kepala, karena fungsi tubuh mereka berbeda jauh dengan mamalia. Mereka tidak bernafas melalui mulut, melainkan melalui lubang di tubuh yang disebut sebagai spirakel.
Selain itu, kecoa juga memiliki sistem peredaran darah terbuka yang artinya darah mengalir bebas ke seluruh tubuh dan menjaga tekanan darah agar tetap rendah. Itu berarti, sayatan besar pada organ vital tidak akan menyebabkan kehilangan darah yang fatal.

KERAJAAN ISLAM PERTAMA

 

Kesultanan Pasai, juga dikenal dengan Samudera Darussalam, atau Samudera Pasai, dengan sebutan singkat yaitu Pasai, adalah kerajaan Islam yang terletak di pesisir pantai utara Sumatra, Kabupaten Aceh Utara. Kerajaan ini didirikan oleh Meurah Silu, yang bergelar Sultan Malik as-Saleh, sekitar tahun 1267.


Para sejarawan menelusuri keberadaan kerajaan ini menggunakan sumber dari Hikayat Raja-raja Pasai, serta peninggalan sejarah adat istiadat serta budaya setempat yang masih berjalan dan dipertahankan oleh masyarakat pesisir pantai utara Sumatra. Hal ini dibuktikan dengan beberapa makam raja yang datang pertama kali pada tahun 710 Masehi, serta penemuan koin berbahan emas dan perak dengan tertera nama keturunan rajanya. Dengan di temukannya Makam Raja ini membuktikan sebelumnya sudah berdiri Kerajaan Samudera Pasai, sebelum Rajanya Meninggal. Berarti Kerajaan Samudera Pasai sudah berdiri sebelum 710 Masehi, dan juga bisa dikatakan Islam sudah masuk di Nusantara sebelum 710 Masehi. Keberadaan kerajaan ini juga tercantum dalam kitab Rihlah ila l-Masyriq karya Abu Abdullah ibn Batuthah, musafir Maroko yang singgah ke negeri ini pada tahun 1345. Kesultanan Pasai akhirnya runtuh setelah serangan Portugal pada tahun 1521.


Berdasarkan Hikayat Raja-raja Pasai, serta dalam Tambo Minangkabau putra dari Ahlul Bait Sayyidina Hussein, menceritakan tentang pendirian Pasai oleh Meurah Silu dan menyebut nama raja yang mukim dari tahun 710 Masehi, hingga para anak cucu nya sebagai penyebar agama Islam di Sumatra, setelah sebelumnya ia menggantikan seorang raja yang bernama Sultan Malik al-Nasser. Meurah Silu ini sebelumnya berada pada satu kawasan yang disebut dengan Semerlanga, kemudian setelah naik tahta bergelar Sultan Malik as-Saleh, ia wafat pada tahun 1267 Masehi.


Dalam Hikayat Raja-raja Pasai maupun Sulalatus Salatin, nama Pasai dan Samudera telah dipisahkan merujuk pada dua kawasan yang berbeda, tetapi dalam catatan Tiongkok nama-nama tersebut tidak dibedakan sama sekali. Sementara Marco Polo dalam lawatannya mencatat beberapa daftar kerajaan yang ada di pantai timur Pulau Sumatra waktu itu, dari selatan ke utara terdapat nama Ferlec atau Perlak, Basma dan Samara atau Samudera.


Pemerintahan Sultan Malik as-Saleh kemudian dilanjutkan oleh putranya, Sultan Muhammad Malik az-Zahir dari perkawinannya dengan putri Raja Perlak. Pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Malik az-Zahir, koin emas sebagai mata uang telah diperkenalkan di Pasai, seiring dengan berkembangnya Pasai menjadi salah satu kawasan perdagangan, sekaligus tempat pengembangan dakwah agama Islam. Kemudian sekitar tahun 1326, ia meninggal dunia, dan digantikan oleh anaknya, Sultan Mahmud Malik az-Zahir dan memerintah sampai tahun 1345. Pada masa pemerintahannya, ia dikunjungi oleh Ibn Batuthah, kemudian menceritakan bahwa sultan di negeri Samudera menyambutnya dengan penuh keramahan, dan penduduknya menganut Mazhab Syafi'i.

Pusat pemerintahan Kesultanan Pasai terletak antara Sungai Jambu Air dengan Sungai Pasai, Aceh Utara. Menurut ibn Batuthah yang menghabiskan waktunya sekitar dua minggu di Pasai, menyebutkan bahwa kerajaan ini tidak memiliki benteng pertahanan dari batu, tetapi telah memagari kotanya dengan kayu, yang berjarak beberapa kilometer dari pelabuhannya. Pada kawasan inti kerajaan ini terdapat masjid, dan pasar serta dilalui oleh sungai tawar yang bermuara ke laut. Ma Huan menambahkan, walau muaranya besar namun ombaknya menggelora dan mudah mengakibatkan kapal terbalik. Sehingga penamaan Lhokseumawe, yang artinya teluk yang airnya berputar-putar kemungkinan berkaitan dengan ini.


Dalam struktur pemerintahan terdapat istilah menteri, syahbandar dan kadi. Sementara anak-anak sultan, baik lelaki maupun perempuan digelari dengan Tun, begitu juga beberapa petinggi kerajaan. Kesultanan Pasai memiliki beberapa kerajaan bawahan, dan penguasanya juga bergelar sultan.
Pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Malik az-Zahir, Kerajaan Perlak telah menjadi bagian dari kedaulatan Pasai, kemudian ia juga menempatkan salah seorang anaknya, yaitu Sultan Mansur di Samudera. Namun pada masa Sultan Ahmad Malik az-Zahir, kawasan Samudera sudah menjadi satu kesatuan dengan nama Samudera Pasai, yang tetap berpusat di Pasai. Pada masa pemerintahan Sultan Zain al-Abidin Malik az-Zahir, Kerajaan Pedir disebutkan menjadi kerajaan bawahan dari Pasai. Sementara itu Pasai juga disebutkan memiliki hubungan yang buruk dengan Nakur, puncaknya kerajaan ini menyerang Pasai dan mengakibatkan Sultan Pasai terbunuh.


Pasai merupakan kota dagang, mengandalkan lada sebagai komoditas andalannya, dalam catatan Ma Huan, disebutkan 100 kati lada dijual dengan harga perak 1 tahil. Dalam perdagangan, Kesultanan Pasai mengeluarkan koin emas sebagai alat transaksi pada masyarakatnya, mata uang ini disebut Dirham, yang terbuat dari 70% emas murni dengan berat 0,60 gram, diameter 10 mm, mutu 17 karat.
Sementara masyarakat Pasai umumnya telah menanam padi di ladang, yang dipanen 2 kali setahun, serta memilki sapi perah untuk menghasilkan keju. Sedangkan rumah penduduknya memiliki tinggi rata-rata 2,5 meter yang disekat menjadi beberapa bilik, dengan lantai terbuat dari bilah-bilah kayu kelapa atau kayu pinang, yang disusun dengan rotan, dan di atasnya dihamparkan tikar rotan atau pandan.


Islam merupakan agama yang dianut oleh masyarakat Pasai, walau pengaruh Hindu dan Buddha juga turut mewarnai masyarakat ini. Dari catatan Ma Huan dan Tomé Pires, telah membandingkan dan menyebutkan bahwa sosial budaya masyarakat Pasai mirip dengan Malaka, seperti bahasa, maupun tradisi pada upacara kelahiran, perkawinan dan kematian. Kemungkinan kesamaan ini memudahkan penerimaan Islam di Malaka dan hubungan yang akrab ini dipererat oleh adanya pernikahan antara putri Pasai dengan raja Malaka sebagaimana diceritakan dalam Sulalatus Salatin. 

Sejarah Nusantara pada era kerajaan Hindu-Buddha



Sejarah Nusantara pada Era Kerajaan Hindu Buddha berkembang karena hubungan dagang wilayah Nusantara dengan negara-negara dari luar, seperti India, Tiongkok, dan wilayah Timur Tengah. Agama Hindu masuk ke Indonesia pada periode tarikh Masehi. Agama ini dibawa oleh para musafir dari India yang bernama Maha Resi Agastya. Maha Resi agastya ini di Jawa terkenal dengan nama Batara Guru atau Dwipayana. Ajaran Hindu yang berkembang di beberapa tempat di Nusantara disebut dengan aliran Waiṣṇawa, yaitu suatu ajaran yang memuja Dewa Wiṣṇu sebagai dewa utama. Ajaran ini dianut oleh kelompok-kelompok masyarakat di Situs Kota Kapur, Bangka, Situs Cibuaya, Situs Karawang dan Situs Muarakaman, Kutai. Bukti adanya Agama Hindu tampak pada prasasti Tuk Mas yang ditemukan di Desa Lebak, Kecamatan Grabag, Magelang, Jawa Tengah, di lereng Gunung Merbabu yang diperkirakan berasal dari pertengahan abad ke-7 Masehi.


Dalam ajaran Buddha, diketahui dianut oleh kelompok masyarakat Nusantara tepatnya di Situs Batujaya, Situs Bukit Siguntang di Sumatera Selatan, dan Situs Batu Pait di Kalimantan Barat pada sekitar abad ke-6 sampai 7 Masehi. Proses penyebaran agama Buddha dilakukan oleh para Dharmaduta yang bertugas untuk menyebarkan Dharma atau ajaran Buddha ke seluruh dunia. Penyebaran agama Buddha di Indonesia dilakukan oleh bangsa Indonesia sendiri yang belajar di India dan menjadi Bhiksu kemudian menyebarkan ajarannya di Nusantara. Untuk di daerah pulau Jawa, agama Buddha datang pada Abad ke-5 yang disebarkan oleh pangeran Khasmir bernama Gunadharma. Pada abad ke-9, penyebaran Agama Buddha dilakukan oleh pendeta-pendeta dari wilayah India yaitu Gaudidwipa atau benggala, dan Gujaradesa atau Gujarat. Bukti tertua adanya pengaruh Buddha India di Indonesia adalah dengan ditemukannya Arca Buddha dari perunggu di Sempaga, Sulawesi Selatan. Antara abad ke 4 hingga abad ke 16 di berbagai wilayah nusantara berdiri berbagai kerajaan yang bercorak agama Hindu dan Buddha.


Sejak masuknya agama Hindu dan Buddha, masyarakat prasejarah Nusantara yang sebelumnya memiliki kepercayaan animisme dan dinamisme beralih memeluk agama Hindu dan Buddha.
Agama Buddha pertama kali masuk ke Nusantara sekitar pada abad ke-2 Masehi. Hal tersebut dibuktikan dengan penemuan patung Buddha dari perunggu di daerah Jember dan Sulawesi Selatan. Pengenalan agama Buddha di Nusantara berasal dari laporan seorang pengelana Cina bernama Fa Hsien pada awal abad ke 5 Masehi. Pada abad ke-4 di Jawa Barat terdapat kerajaan yang bercorak Hindu-Buddha, yaitu kerajaan Tarumanagara. Kemudian dilanjutkan dengan Kerajaan Sunda sampai abad ke-16. Selain Kerajaan Tarumanagara dan Kerajaan Sunda, masih banyak pula kerajaan lain bercorak Hindu-Buddha, seperti Kerajaan Mataram Kuno.

Selanjutnya, muncul dua kerajaan besar, yakni Kedatuan Sriwijaya dan Kerajaan Majapahit. Pada masa abad ke-7 hingga abad ke-14, kerajaan Buddha Sriwijaya berkembang pesat di Sumatra. Pada sekitar tahun 670 Masehi, Penjelajah Tiongkok yang bernama I-Tsing mengunjungi ibu kota daerah Palembang. Pada puncak kejayaannya, kekuasaan Sriwijaya mencapai daerah Jawa Tengah dan Kamboja. Pada abad ke-14 terdapat satu kerajaan Hindu di Jawa Timur yang bernama Kerajaan Majapahit. Antara tahun 1331 sampai 1364, Patih Majapahit yang bernama Gajah Mada berhasil memperoleh kekuasaan atas wilayah yang kini sebagian besarnya adalah Indonesia beserta hampir seluruh Semenanjung Melayu.


Sebelum masuknya kebudayaan Hindu-Buddha, masyarakat prasejarah Nusantara telah memiliki kebudayaan yang cukup maju. Selanjutnya, warisan dari Kerajaan Hindu dan Buddha yang pernah ada di Nusantara membentuk berbagai inspirasi hasil karya budaya di Nusantara. Salah satu contohnya ialah karya sastra India yang dibawa ke Indonesia, yakni wiracarita Ramayana, Mahabarata, dan karya sastra lainnya. Adanya kedua kitab itu juga memacu beberapa pujangga Nusantara untuk menghasilkan karyanya sendiri, seperti Empu Dharmaja dari kerajaan Kediri yang menyusun Kitab Smaradhahana, Empu Sedah dan Empu Panuluh dari kerajaan Kediri yang menelurkan karya Kitab Bharatayuda, Empu Tanakung yang membuat Kirab Lubdaka, Empu Kanwa yang memiliki karya Kitab Arjunawiwaha, Empu Triguna dengan Kitab Kresnayana-nya, Empu Panuluh yang menulis Kitab Gatotkacasraya, Empu Tantular yang membuat Kitab Kitab Sotasoma, dan Empu Prapanca yang masyhur dengan magnum opusnya yang berjudul Kitab Negarakertagama. Dengan demikian, cerita dari karya sastra yang muncul pada masa Hindu Buddha ini menjadi sumber inspirasi bagi pewayangan Indonesia.
Selain karya sastra, sistem politik dan pemerintahan pun diperkenalkan oleh orang-orang India dan membuat masyarakat yang pada awalnya hidup dalam kelompok-kelompok kecil menjadi bersatu dan membentuk sebuah kekuasaan yang lebih besar dengan pemimpin tunggal berupa seorang raja. Karena pengaruh hal ini, beberapa kerajaan Hindu-Buddha seperti Kedatuan Sriwijaya, Kerajaan Majapahit, Tarumanegara, dan Kutai akhirnya dapat muncul di Nusantara.


Tidak hanya karya sastra dan sistem politik saja yang berkembang pada masa Hindu Buddha di Nusantara, banyak pula hasil karya manusia masa lalu yang menandakan sejarah berkembangnya Hindu-Buddha di Nusantara. Beberapa di antaranya ialah adanya alat-alat dan benda sarana ritual yang salah satunya berbentuk arca yang memiliki beberapa bentuk yang dapat dikenali dari beberapa tanda khusus, posisi atau sikap tertentu, dan wahana atau binatang yang dianggap menjadi kendaraan seorang dewa.


Masuknya ajaran Islam pada sekitar abad ke-12 Masehi melahirkan kerajaan-kerajaan bercorak Islam yang ekspansionis, seperti Samudera Pasai, Aceh, Jambu Lipo, dan Kepaksian Paksi Pak di Sumatra serta Kerajaan Demak di Jawa menandai akhir dari era Hindu-Buddha ini.

Sejarah Kerajaan Bedahulu Di Bali



Kerajaan Badahulu atau Bedulu adalah kerajaan kuno di pulau Bali pada abad ke-8 sampai abad ke-14 Masehi, yang memiliki pusat kerajaan di sekitar Pejeng atau Bedulu, Kabupaten Gianyar, Bali.
Diperkirakan kerajaan ini diperintah oleh raja-raja keturunan dinasti Warmadewa. Penguasa terakhir kerajaan Bedulu yang menentang ekspansi kerajaan Majapahit pada tahun 1343 pimpinan Gajah Mada, namun berakhir dengan kekalahan Bedulu. Perlawanan Bedulu kemudian benar-benar padam setelah pemberontakan keturunan terakhirnya berhasil dikalahkan tahun 1347 Masehi.


Setelah itu Gajah Mada menempatkan seorang keturunan brahmana dari Jawa bernama Sri Kresna Kepakisan sebagai raja di pulau Bali. Keturunan dinasti Kepakisan inilah yang di kemudian hari menjadi raja-raja di beberapa kerajaan kecil di Pulau Bali.


Nama Pejeng mulai dikenal sejak tahun 1705, melalui laporan naturalis Belanda Georg Everhard Rumphius. Dalam laporan tersebut, Rumphius menyebut keberadaan genderang atau nekara berbahan perunggu yang kemudian hari disebut Bulan Pejeng. Rumphius sendiri belum pernah melihat benda tersebut. Dia mendapat informasi dari orang lain yang menyatakan bahwa di Pejeng ada benda misterius dari perunggu. Benda ini dianggap meteorit dan bidang pukulnya yang bulat dianggap sebagai bulatan roda. Rumphius menulis, benda ini semula tergeletak di tanah, tidak seorang pun yang berani memindahkan karena takut mendapat celaka. 

Inventarisasi kepurbakalaan yang dilakukan Oudheidkundige Dienst atau Jawatan Purbakala Pemerintah Hindia Belanda, yang kemudian diteruskan oleh Balai Kepurbakalaan Indonesia, menemukan kenyataan Desa Pejeng memiliki peninggalan arkeologis yang amat beragam dan tersebar hampir di seluruh pelosok desa. Peninggalan-peninggalan purba dan tulisan-tulisan yang ada membuat para ahli memperkirakan Pejeng adalah pusat Kerajaan Bali Kuno yang sekarang lebih dikenal dengan nama Kerajaan Bedahulu. Kata pejeng sendiri diduga berasal dari kata pajeng atau payung, karena dari desa inilah raja-raja Bali Kuno memayungi rakyatnya. Ada juga yang menduga berasal dari kata pajang, bahasa Jawa Kuno yang berarti sinar. Bagi tetua di Pejeng, sebelum Pejeng, desa itu disebut Soma Negara, ibu kota Kerajaan Singamandawa.


Bulan Pejeng yang kini disimpan di Pura Penataran Sasih, adalah nekara terbesar yang pernah ditemukan di Indonesia dengan tinggi 186,5 cm dan garis tengah bidang pukul 160 cm. Nekara bertipe moko ini dalam perkembangan lebih lanjut menjadi model pertama untuk semua jenis moko yang kini banyak dijumpai di wilayah Indonesia lainnya dalam ukuran lebih kecil. Di Indonesia, nekara memiliki nama lokal beragam, seperti bulan untuk menyebut nama nekara dari Pejeng (Bali), tifa guntur (Maluku), makalamau (Sangeang), moko (Alor), kuang (Pulau Pantar), dan wulu (Flores Timur).

Benarkah Kelinci Tidak Bisa Hidup Tanpa Wortel..?



Kelinci menjadi salah satu hewan yang cukup banyak dipelihara. Selain karena lucu dan menggemaskan, memelihara kelinci terbilang mudah dan bisa mengusir kesepian di rumah.
Ditambah, berbeda dengan anjing dan kucing, kelinci dikenal memiliki kepribadian yang kalem serta tidak bersuara sehingga membuat rumah tetap nyaman serta tenang.
Sayangnya, beberapa orang yang memelihara kelinci tak banyak mengetahui fakta-fakta tentang hewan mamalia itu.
Kebanyakan orang hanya mengetahui bahwa kelinci adalah pemakan wortel. Padahal ada banyak fakta lain tentang kelinci.
berikut ini beberapa fakta unik kelinci yang perlu diketahui, terutama para pencinta kelinci.


1, Beberapa kelinci bisa sebesar balita.
Tidak semua kelinci itu lucu dan mungil. Beberapa kelinci seperti kelinci raksasa Flemish dapat tubuh besar, bahkan tampak mengerikan.
Kelinci jenis ini adalah ras kelinci terbesar di dunia. Panjangnya bisa mencapai 76cm dan beratnya mencapai 10kg.
Untungnya, kelinci raksasa ini adalah jenis yang lembut sehingga membuatnya menjadi hewan peliharaan yang populer.


2, Kelinci memakan kotorannya sendiri.
Selanjutnya, fakta unik kelinci adalah memakan kotorannya senditi. Tentu saja, ini perilaku kelinci yang kurang menyenangkan dan menjijikan. Namun, kotoran tersebut sebenarnya merupakan bagian penting dari makanan kelinci. Kelinci menghasilkan jenis kotoran khusus yang disebut cecotropes. Ini lebih lembut dari kotoran normal mereka dan dimaksudkan untuk dimakan.
Kelinci memiliki sistem pencernaan yang bergerak cepat. Dengan mencerna kembali kotorannya, kelinci dapat menyerap nutrisi yang tidak didapatkan tubuhnya untuk pertama kalinya.


3, kelinci tidak bisa hidup tanpa wortel.
Banyak serial kartun yang menunjukkan bahwa kelinci sangat menyukai wortel. Padahal, di alam liar, kelinci tidak makan sayuran akar. Kelinci lebih suka mengunyah sayuran hijau seperti rumput liar, rumput, dan cengkih.  Meski begitu, bukan berarti tidak boleh memberikan wortel pada kelinci. Wortel boleh diberikan, tetapi jangan berlebihan. Sebab, wortel mengandung banyak gula dan berkontribusi terhadap kerusakan gigi pada 11% kelinci peliharaan.


4, Kelinci merawat dirinya sendiri.
Kelinci sangat higienis. Sama dengan kucing, kelinci menjaga kebersihan dirinya sepanjang hari dengan menjilati bulu dan cakarnya. Artinya, kelinci umumnya tidak perlu dimandikan oleh pemiliknya seperti hewan peliharaan lainnya.


5, kelinci tidak bisa muntah.
Saat merawat dirinya sengan menjilati tubuhnya, kelinci bisa mengalami batuk yang disebabkan bola rambut, tetapi kelinci tidak bisa muntah untuk mengeluarkannya. Hal ini karena sistem pencernaan kelinci secara fisik tidak mampu bergerak mundur. Alih-alih memuntahkan bola rambut, kelinci menangani bulu yang tertelan dengan memakan banyak serat sehingga mendorongnya melalui saluran pencernaan mereka.

9 Jenis Kupu Kupu Yang Cantik



Kupu-kupu adalah serangga bersayap yang memiliki sayap bersisik. Indonesia patut bersyukur, karena di negeri ini diperkirakan terdapat kurang lebih 2.500 jenis kupu-kupu yang bebas beterbangan. Di seluruh dunia, terdapat kurang lebih 20.000 jenis kupu-kupu. Di antara beribu-ribu jenis kupu-kupu, banyak juga yang sering menjadi perhatian karena warna dan juga corak pada sayapnya yang cantik dan unik.


1, The Blue Morpho.
Jenis kupu-kupu ini memiliki sayap yang terbilang cukup besar. Pada sayapnya, Anda bisa melihat gradasi warna biru dan hitam sehingga membuat kupu-kupu ini terlihat sangat memukau dan memesona.
Kupu-kupu ini memiliki habitat di hutan hujan Brasil dan Venezuela. Kupu kupu jantan memiliki warna yang sangat cerah, sedangkan betina tidak berwarna secerah yang dimiliki jantan.


2, The Glasswing Butterfly.
Sayap pada kupu-kupu ini tembus pandang. Dengan tulang-tulang sayap yang menghiasi sayap tembus pandang tersebut, menambah keunikan mereka. Kecantikan The Glasswing Butterfly semakin bertambah dengan warna hitam, putih, serta sedikit warna cokelat yang menghiasi ujung sayapnya.


3, The Sri Lankan Ceylon Rose.
Bentuk sayap yang memanjang di bagian atas dekat dengan kepala serta memiliki beberapa lekukan-lekukan di bagian bawah sayap membuat bentuk kupu-kupu sangat khas dan unik.
Tampilan sayap yang berwarna hitam, putih, serta sedikit warna cokelat, menambah kupu-kupu ini semakin terlihat elegan.


4, Sapho Longwings.
Jenis kupu-kupu yang memiliki sayap lebih panjang dari pada umumnya ini bisa ditemui di kawasan Meksiko dan Ekuador. Memiliki corak dengan dominasi warna biru navy serta dihiasi dengan warna putih di tengah sayap membuat tampilan kupu-kupu ini terlihat sangat unik.


5, Spicebrush Swallowtails.
Jenis kupu-kupu ini juga merupakan jenis yang terbesar di dunia, karena rentang sayap kupu-kupu ini bisa mencapai 4 inchi.


6, Malabar Banded Peacock.
Kupu-kupu ini memiliki warna sayap hitam sedangkan bagian dalam sayapnya berwarna turquoise, sehingga membuatnya terlihat sangat anggun. Kamu bisa menemui jenis kupu-kupu ini di daerah Ghats barat India. Sayangnya, jumlah kupu-kupu cantik ini sudah mulai berkurang.


7, Peacock Swallowtail.
Didominasi dengan warna gelap berupa hitam dan biru serta sedikit terdapat warna merah muda di bawah sayapnya membuat kupu-kupu ini memiliki kesan yang misterius.


8, Monarch Butterfly.
Penyebaran kupu-kupu ini cukup luas, bahkan hampir mencakup di seluruh dunia. Keunikan lain yang dimiliki oleh kupu-kupu ini adalah racun yang ada di dalam tubuhnya. Meski terdengar berbahaya, racun ini dinilai tidak berbahaya bagi manusia.


9, Queen Alexandra Birdwing Butterfly.
Kupu kupu ini dianggap sebagai salah satu spesies kupu-kupu terbesar di dunia dengan lebar sayap mencapai 30 cm. Kupu kupu ini dapat ditemukan di daerah hutan Papua.

Fakta Unik Nyamuk



Nyamuk adalah salah satu hewan yang kerap dijumpai di lingkungan sekitar. Serangga ini terbilang menganggu karena nyamuk menggigit kulit untuk menghisap darah manusia. Tak hanya menimbulkan rasa gatal karena gigitannya, nyamuk juga bisa melahirkan berbagai penyakit yang merugikan. berikut adalah fakta menarik tentang nyamuk.


1, Banyak spesies nyamuk.
Terdapat lebih dari 3.500 spesies nyamuk di dunia yang berbeda-beda. Jumlah itu setara dengan ketinggian lebih dari 3 mil, bila 100 triliun nyamuk ditumpuk bersama di lapangan sepak bola.


2, Rata-rata umur nyamuk kurang dari 2 bulan.
Meskipun dikenal mematikan karena gigitannya, nyamuk adalah salah satu hewan yang memiliki rentang hidup singkat. Setelah kawin, nyamuk jantan biasanya hidup hanya selama 3 sampai 5 hari. Sementara nyamuk betina dapat hidup selama 1 atau 2 bulan. Dalam kurun waktu tersebut, nyamuk betina akan bertelur setiap tiga minggu.


3, Nyamuk menghisap darah hingga 3 kali beratnya.
Nyamuk mampu menghisap darah manusia hingga 3 kali berat badannya, karena nyamuk betina membutuhkan darah untuk bertelur dan berkembang biak dalam jumlah banyak.


4, Nyamuk adalah hewan paling mematikan di dunia.
Nyamuk adalah hewan yang mampu menularkan berbagai penyakit mematikan, karena menyebabkan malaria yang mempengaruhi hampir 300 juta orang setiap tahun. Selain itu, nyamuk juga menyebabkan gangguan seperti demam berdarah, virus zika, kolera dan influenza.


5, Air liur nyamuk penyebab rasa gatal.
Ketika nyamuk menggigit dan menghisap darah dalam  tubuh, nyamuk akan meninggalkan air liur nya di permukaan kulit, kemudian air liur ini menyebabkan reaksi alergi ringan, berupa benjolan merah yang gatal. 


6, Nyamuk tertarik dengan nafas.
Selain suka dengan darah, ternyata nyamuk juga tertarik dengan nafas kita. Nyamuk tertarik dengan karbon dioksida yang kita hembuskan melalui nafas. Itu merupakan alat pelacak bagi mereka untuk mencari kita, bahkan nyamuk mampu melacaknya dari kejauhan.


7, Nyamuk betina lebih agresif.
Para penelitian mengungkapkan fakta bahwa alasan nyamuk betina yang sering menggigit adalah karena mereka lebih membutuhkan banyak nutrisi dari darah kita untuk bisa mengembangkan telurnya.
Sedangkan nyamuk jantan, mereka tidak akan khawatir tentang asupannya, karena mereka lebih memilih memakan nektar dari tumbuh-tumbuhan.


8, Hewan penerbang sangat lambat.
Menurut penelitian, nyamuk terbang dalam kecepatan 667 kali lebih lambat dari waktu nyatanya. Berarti, nyamuk terbang hanya dengan kecepatan 1 hingga 1,5 mil per jam jika dibandingkan dengan lebah madu, yang terbang hingga 15 mil per jam.


9, Nyamuk dewasa hidup selama 6 bulan.
menurut penelitian, nyamuk betina dewasa dengan suplai makanan yang cukup dapat hidup hingga 6 bulan atau lebih lama lagi.


10, Air adalah tempat nyamuk.
air merupakan tempat menyimpan telur nyamuk untuk bisa berkembang lebih cepat. Meskipun hanya membutuhkan sedikit air saja, nyamuk bisa jadikan air tersebut sebagai tempat pembibitan mereka.