SEJARAH INDONESIA PADA ERA KOLONIAL

Kedatangan Portugis, Perebutan Rempah-Rempah, dan Awal Kekuasaan Belanda



Nusantara Sebelum Kedatangan Bangsa Eropa

Jauh sebelum bangsa Eropa datang, wilayah yang sekarang dikenal sebagai Indonesia telah menjadi bagian penting dari jaringan perdagangan internasional.

Kepulauan Nusantara memiliki kekayaan alam yang menarik perhatian pedagang dari berbagai kawasan dunia. Salah satu komoditas yang paling dicari adalah rempah-rempah, terutama cengkih, pala, dan bunga pala.

Pada masa itu, rempah-rempah bukan sekadar bahan penyedap makanan. Komoditas tersebut digunakan dalam pengobatan tradisional, pengolahan makanan, dan berbagai kebutuhan masyarakat di sejumlah wilayah Asia maupun Eropa.

Maluku menjadi salah satu pusat perdagangan yang sangat penting karena merupakan daerah asal sejumlah rempah bernilai tinggi.

Sementara itu, pelabuhan seperti Malaka berperan sebagai tempat pertemuan pedagang dari berbagai bangsa. Kapal-kapal dari Asia Selatan, Timur Tengah, Tiongkok, dan kawasan Nusantara saling bertukar barang melalui jalur perdagangan maritim.

Kondisi inilah yang kemudian menarik perhatian kerajaan-kerajaan Eropa untuk mencari jalur perdagangan langsung menuju Asia.

Mengapa Bangsa Portugis Berlayar ke Timur?

Pada akhir abad ke-15, Kerajaan Portugis mulai memperluas kegiatan pelayaran samudra.
Salah satu tujuan utamanya adalah menemukan jalur laut menuju pusat perdagangan Asia tanpa harus bergantung sepenuhnya pada jaringan perantara yang telah lama menguasai perdagangan antarwilayah.

Perjalanan tersebut membutuhkan keberanian, pengetahuan navigasi, dan kemampuan menghadapi kondisi laut yang sulit diprediksi.
Armada Portugis berangkat dari kawasan pesisir Portugal, menyusuri Samudra Atlantik, kemudian mengitari ujung selatan Benua Afrika melalui Tanjung Harapan.

Setelah mencapai Samudra Hindia, pelayaran dilanjutkan menuju pusat-pusat perdagangan Asia.
Pada tahun 1498, Vasco da Gama berhasil mencapai India melalui jalur laut dari Eropa. Keberhasilan tersebut menjadi salah satu tonggak penting dalam perluasan perdagangan maritim Portugis.

Namun, tujuan ekspansi Portugis tidak hanya berkaitan dengan perdagangan.
Kerajaan tersebut juga memiliki kepentingan politik, militer, dan penyebaran agama Katolik. Ketiga tujuan itu sering dirangkum dalam istilah *Gold, Glory, and Gospel*, yaitu kekayaan, kejayaan, dan penyebaran agama.

Afonso de Albuquerque dan Penaklukan Malaka Tahun 1511

Salah satu tokoh penting dalam sejarah ekspansi Portugis di Asia adalah Afonso de Albuquerque.
Ia merupakan pemimpin Portugis yang memiliki peran besar dalam membangun jaringan kekuasaan maritim di kawasan Samudra Hindia.
Pada tahun 1511, Albuquerque memimpin ekspedisi militer untuk merebut Malaka.

Saat itu, Malaka merupakan salah satu pusat perdagangan terpenting di Asia Tenggara. Letaknya yang strategis memungkinkan pelabuhan tersebut menghubungkan jalur perdagangan dari India, Tiongkok, dan kepulauan penghasil rempah-rempah.

Setelah melalui pertempuran pada tahun 1511, Portugis berhasil menguasai kota pelabuhan Malaka.
Peristiwa tersebut menjadi perubahan besar dalam sejarah perdagangan Asia Tenggara.

Meski demikian, keberhasilan menguasai Malaka tidak berarti Portugis langsung mengendalikan seluruh perdagangan Nusantara. Para pedagang dan kerajaan setempat masih memiliki jaringan perdagangan sendiri, bahkan sebagian aktivitas perdagangan kemudian beralih ke pelabuhan lain.

Perjalanan Portugis Menuju Kepulauan Maluku

Setelah menguasai Malaka, Portugis berusaha menemukan daerah asal rempah-rempah yang selama ini diperdagangkan melalui berbagai pelabuhan Asia.

Pada tahun 1511, ekspedisi menuju kepulauan rempah disiapkan, dan pada tahun 1512 armada yang dipimpin António de Abreu mencapai kawasan Banda.
Dalam rangkaian pelayaran tersebut, Francisco Serrão juga mencapai wilayah Maluku dan kemudian menjalin hubungan dengan penguasa Ternate.

Kedatangan Portugis membuka hubungan baru antara kerajaan-kerajaan Maluku dan kekuatan maritim Eropa.
Pada awalnya, hubungan tersebut mencakup perdagangan dan kerja sama politik.
Namun, persaingan untuk menguasai jalur perdagangan serta campur tangan dalam urusan kerajaan setempat secara bertahap menimbulkan ketegangan.

Hubungan Portugis dengan Kerajaan Ternate

Ternate merupakan salah satu kerajaan penting di Maluku yang memiliki pengaruh besar dalam perdagangan cengkih.
Kehadiran Portugis pada awal abad ke-16 sempat memberikan peluang kerja sama bagi sebagian penguasa setempat.

Akan tetapi, hubungan tersebut tidak selalu berjalan harmonis.
Kepentingan Portugis untuk memperkuat posisi perdagangan dan militernya sering berbenturan dengan kepentingan politik kerajaan-kerajaan Maluku.

Pada tahun 1522, Portugis mulai membangun benteng di Ternate yang kemudian dikenal sebagai Benteng São João Baptista.
Benteng tersebut menjadi salah satu pusat kegiatan militer dan perdagangan Portugis di wilayah Maluku.

Seiring berjalannya waktu, perselisihan antara Portugis dan penguasa Ternate semakin meningkat.

Sultan Hairun dan Perlawanan terhadap Portugis

Salah satu tokoh penting dalam sejarah perlawanan Ternate adalah Sultan Hairun.
Pada masa pemerintahannya, hubungan antara Kesultanan Ternate dan Portugis mengalami berbagai ketegangan.

Persaingan politik, pengaruh militer, dan kepentingan perdagangan menjadi bagian dari konflik yang berlangsung.
Pada tahun 1570, Sultan Hairun dibunuh oleh pihak Portugis setelah menghadiri pertemuan di benteng mereka.

Peristiwa tersebut memicu kemarahan dan memperkuat perlawanan masyarakat Ternate.
Perjuangan kemudian dilanjutkan oleh putranya, Sultan Baabullah.
Di bawah kepemimpinan Sultan Baabullah, kekuatan Ternate berhasil mengepung kedudukan Portugis.

Pada tahun 1575, Portugis akhirnya menyerahkan benteng mereka di Ternate.
Keberhasilan tersebut menjadi salah satu peristiwa penting dalam sejarah perlawanan kerajaan Nusantara terhadap kekuatan kolonial Eropa.

Portugis dan Kerajaan Sunda

Selain menjalin hubungan dengan kerajaan-kerajaan Maluku, Portugis juga berusaha membangun kerja sama perdagangan di wilayah barat Pulau Jawa.

Pada tahun 1522, Portugis mengadakan perjanjian dengan Kerajaan Sunda.
Perjanjian tersebut berkaitan dengan hubungan perdagangan dan rencana pembangunan benteng Portugis di kawasan Sunda Kelapa.

Hubungan ini menunjukkan bahwa kerajaan-kerajaan Nusantara memiliki kepentingan politik dan perdagangan yang berbeda-beda dalam menghadapi kedatangan bangsa Eropa.
Namun, rencana pembangunan benteng Portugis di Sunda Kelapa tidak terwujud sebagaimana direncanakan.

Pada tahun 1527, Sunda Kelapa direbut oleh pasukan yang dipimpin Fatahillah, dalam rangkaian konflik politik di wilayah Jawa bagian barat.
Peristiwa ini kemudian berkaitan dengan sejarah perkembangan Jayakarta, yang menjadi salah satu pendahulu kota Jakarta.

Penyebaran Agama dan Jejak Budaya Portugis

Kedatangan Portugis juga membawa pengaruh dalam kehidupan sosial dan budaya masyarakat di sejumlah wilayah Nusantara.

Para misionaris Katolik melakukan kegiatan penyebaran agama, terutama di kawasan Indonesia bagian timur.
Salah satu tokoh yang dikenal dalam sejarah tersebut adalah Fransiskus Xaverius, yang melakukan kegiatan misi di Maluku pada abad ke-16.

Selain pengaruh keagamaan, hubungan panjang antara masyarakat lokal dan Portugis juga meninggalkan jejak dalam bahasa, musik, tradisi, serta arsitektur.
Beberapa kata dalam bahasa Indonesia memiliki akar dari bahasa Portugis, seperti meja, gereja, sepatu, dan jendela.

Di Jakarta, Kampung Tugu dikenal memiliki warisan budaya yang berkaitan dengan komunitas keturunan masyarakat berbahasa Portugis dan tradisi musik keroncong Tugu.
Sementara itu, di Flores, Solor, dan sebagian kawasan Indonesia timur, jejak sejarah Portugis masih dapat ditemukan dalam berbagai peninggalan budaya dan tradisi masyarakat.

Warisan tersebut memperlihatkan bahwa pertemuan antarbangsa tidak hanya menghasilkan konflik, tetapi juga pertukaran budaya yang berlangsung selama berabad-abad.

Kedatangan Belanda ke Nusantara Tahun 1596

Menjelang akhir abad ke-16, bangsa Belanda mulai melakukan pelayaran langsung menuju Asia. Pada tahun 1596, ekspedisi Belanda yang dipimpin Cornelis de Houtman tiba di Banten.

Kedatangan tersebut menjadi salah satu awal keterlibatan langsung Belanda dalam perdagangan di Nusantara.
Pada masa itu, Banten merupakan pelabuhan penting yang memiliki hubungan perdagangan dengan berbagai kawasan.

Belanda tertarik memperoleh rempah-rempah langsung dari sumbernya, sekaligus bersaing dengan kekuatan perdagangan Eropa lainnya.
Seiring meningkatnya persaingan, perusahaan-perusahaan dagang Belanda mulai menggabungkan kekuatan untuk memperluas kegiatan perdagangan mereka di Asia.

Berdirinya VOC pada Tahun 1602

Pada tahun 1602, Belanda membentuk Vereenigde Oostindische Compagnie atau VOC.
VOC merupakan perusahaan dagang yang memperoleh hak istimewa dari pemerintah Republik Belanda.

Hak tersebut mencakup kemampuan menjalankan perdagangan, membangun benteng, membuat perjanjian, dan melakukan tindakan militer dalam wilayah operasinya.
Dengan kewenangan yang luas, VOC tidak hanya bertindak sebagai perusahaan perdagangan, tetapi juga menjadi kekuatan politik dan militer.

VOC kemudian berusaha memperkuat kedudukannya di berbagai pusat perdagangan Nusantara, terutama kawasan penghasil rempah-rempah.
Pada tahun 1605, armada VOC berhasil merebut benteng Portugis di Ambon.
Peristiwa ini menjadi salah satu langkah penting dalam perluasan pengaruh Belanda di Maluku.

Jan Pieterszoon Coen dan Perluasan Kekuasaan VOC

Salah satu tokoh yang memiliki peran besar dalam perkembangan VOC adalah Jan Pieterszoon Coen.
Ia menjabat sebagai Gubernur Jenderal VOC dan mendorong perluasan kekuasaan perusahaan tersebut di Asia.

Pada tahun 1619, VOC merebut Jayakarta dan membangun pusat kekuasaan baru yang diberi nama Batavia.
Batavia kemudian berkembang menjadi pusat administrasi dan perdagangan VOC di kawasan Asia.

Dalam upayanya mengendalikan perdagangan rempah-rempah, VOC menerapkan berbagai kebijakan monopoli yang berdampak besar terhadap kehidupan masyarakat setempat.
Salah satu peristiwa paling tragis terjadi di Kepulauan Banda pada tahun 1621.

Ekspedisi militer VOC di bawah kepemimpinan Coen menyebabkan pembunuhan, pengusiran, dan perbudakan terhadap banyak penduduk Banda.
Peristiwa tersebut menjadi bagian penting dari sejarah kekerasan kolonial yang menyertai perebutan perdagangan rempah-rempah.

Perbedaan Masa Portugis, VOC, dan Pemerintahan Kolonial Belanda

Dalam mempelajari sejarah kolonial Indonesia, penting untuk memahami bahwa kekuasaan Portugis, VOC, dan pemerintah kolonial Belanda berlangsung dalam periode serta bentuk pemerintahan yang berbeda.
Portugis mulai membangun pengaruhnya di kawasan Nusantara pada awal abad ke-16, terutama melalui perdagangan, benteng, dan hubungan dengan kerajaan setempat.

VOC berdiri pada tahun 1602 dan menjalankan kekuasaan sebagai perusahaan dagang yang memiliki kewenangan politik dan militer.
Setelah VOC dibubarkan pada akhir tahun 1799, wilayah serta kepentingan kolonialnya secara bertahap diambil alih oleh pemerintah Belanda.

Kekuasaan kolonial Belanda kemudian berkembang melalui berbagai tahap hingga abad ke-20.Karena itu, anggapan bahwa seluruh Indonesia dijajah Belanda selama tepat 350 tahun perlu dipahami secara lebih kritis.

Wilayah-wilayah Nusantara memiliki pengalaman dan waktu masuknya kekuasaan kolonial yang berbeda-beda. Bahkan, beberapa daerah baru berhasil dikuasai Belanda jauh setelah VOC berdiri.

Dampak Kolonialisme terhadap Masyarakat Nusantara

Kedatangan bangsa Eropa membawa perubahan besar terhadap kehidupan masyarakat Nusantara.
Perubahan tersebut tidak hanya terjadi dalam bidang perdagangan, tetapi juga memengaruhi politik, ekonomi, sosial, dan budaya.

Di sejumlah wilayah, kerajaan-kerajaan lokal menghadapi tekanan akibat campur tangan kekuatan asing.
Monopoli perdagangan juga membatasi kebebasan sebagian masyarakat dalam menjual hasil bumi kepada pihak yang mereka pilih.

Peperangan dan kebijakan kolonial menyebabkan perpindahan penduduk, perubahan struktur kekuasaan, serta penderitaan bagi banyak komunitas.
Di sisi lain, hubungan antarmasyarakat yang berlangsung selama berabad-abad juga meninggalkan berbagai warisan budaya yang masih dapat dipelajari hingga sekarang.
Memahami kedua sisi sejarah tersebut membantu kita melihat masa kolonial secara lebih menyeluruh tanpa mengabaikan dampak kekerasan dan eksploitasi yang terjadi.

Mengapa Sejarah Kolonial Penting Dipelajari?

Sejarah kolonial bukan sekadar cerita tentang kedatangan bangsa asing ke Nusantara.
Di dalamnya terdapat perjalanan panjang mengenai perdagangan dunia, persaingan politik, perkembangan kerajaan lokal, dan perjuangan masyarakat mempertahankan kedaulatan.

Perlawanan Sultan Hairun, Sultan Baabullah, serta berbagai tokoh dan masyarakat Nusantara memperlihatkan bahwa penduduk setempat tidak hanya menjadi penonton dalam perubahan sejarah.

Mereka memiliki kepentingan, strategi, dan kemampuan untuk mengambil keputusan dalam menghadapi kekuatan asing.
Dengan mempelajari sejarah secara kritis, generasi sekarang dapat memahami bagaimana berbagai peristiwa masa lalu ikut membentuk Indonesia modern.

Kesimpulan;
Sejarah Indonesia pada era kolonial merupakan perjalanan panjang yang dimulai dari persaingan perdagangan internasional dan berkembang menjadi perebutan kekuasaan atas berbagai wilayah Nusantara.

Kedatangan Portugis ke Malaka pada tahun 1511 membuka babak baru keterlibatan kekuatan Eropa dalam perdagangan Asia Tenggara.
Perjalanan Portugis menuju Maluku kemudian mempertemukan kepentingan perdagangan Eropa dengan kekuatan politik kerajaan-kerajaan lokal.

Pada akhir abad ke-16, Belanda mulai memasuki jaringan perdagangan Nusantara. Berdirinya VOC pada tahun 1602 mempercepat perluasan pengaruh Belanda, yang kemudian berkembang menjadi kekuasaan kolonial dalam berbagai tahap.

Namun, perjalanan sejarah tersebut tidak berlangsung tanpa perlawanan.
Kerajaan-kerajaan dan masyarakat Nusantara terus menghadapi, menentang, maupun menyesuaikan diri terhadap perubahan politik dan ekonomi yang terjadi.

Mempelajari sejarah kolonial membantu kita memahami bahwa Indonesia terbentuk melalui perjalanan panjang berbagai masyarakat, kerajaan, perdagangan, konflik, dan perjuangan.
Warisan sejarah itu menjadi bagian penting dari identitas bangsa yang patut dipelajari dan dijaga oleh generasi mendatang.

Catatan: 

Artikel ini merupakan materi edukasi sejarah Indonesia yang disusun dengan narasi baru berdasarkan rangkaian peristiwa sejarah. Pembahasan ditujukan untuk memperluas pengetahuan pembaca mengenai masa kolonial dan perkembangan masyarakat Nusantara.

Sumber; 
Museum Nasional Indonesia — Prasasti Padrao dan Perjanjian Sunda-Portugis 1522.
Arsip Nasional Belanda — Peristiwa Banda 1621.
Western Australian Museum — Sejarah VOC di Indonesia.

MENGENAL JENIS UBUR UBUR



Ubur-ubur merupakan salah satu hewan purba yang telah lama dijadikan penelitian oleh para ilmuwan, karena ubur-ubur sudah ada sejak 500 juta tahun yang lalu. Jenis ubur-ubur sangat beragam, ada yang berbahaya dan tidak berbahaya bagi manusia.
Hewan ini bertahan hidup dengan tentakel yang dapat menyengat. Ia dapat melepaskan sengatannya atau racun untuk berburu mangsa dan bertahan hidup. Berikut adalah beberapa jenis ubur ubur.


1, Phyllorhiza Punctata.
Ubur ubur jenis ini sering dijumpai terapung di permukaan air. Ubur-ubur ini memiliki ukuran sampai 50 cm, dan sengatannya tidak berbahaya. 


2, Jelly Bluber.
Jelly Bluber merupakan jenis ubur-ubur yang memiliki warna yang unik. Warnanya bukan berasal dari algae seperti ubur-ubur yang lainnya, melainkan dari pigmen warna yang dimiliki Jelly Bluber sendiri.
Jelly Bluber memiliki tentakel yang dapat menyengat dan menyakitkan.


3, Golden Jelly Fish.
Golden Jelly Fish atau ubur-ubur emas merupakan jenis ubur-ubur yang hidup di air asin. Ubur-ubur ini merupakan ubur-ubur yang tidak menyengat, karena ubur-ubur ini sudah terisolasi sangat lama, sehingga kehilangan sengatannya.
Golden Jelly Fish dapat ditemui di Raja Ampat, Papua Barat, Danau Kakaban dan masih banyak daerah lainnya di Indonesia. Golden Jelly Fish berbentuk seperti kubah yang berwarna emas.


4, Aequorea Victoria.
Aequorea Victoria atau dikenal sebagai kristal Jellyfish. Jenis ini merupakan salah satu ubur-ubur transparan yang dapat menyala ditempat gelap. Ubur-ubur ini banyak memiliki manfaat yang digunakan manusia .


5, Austraian Box Jellyfish.
Selain Aequorea Victoria, Austraian Box Jellyfish merupakan ubur-ubur transparan yang berbahaya. Ubur-ubur ini memiliki racun yang sangat berbahaya bagi manusia .Tak hanya racun yang dimiliki, ubur-ubur ini juga memiliki bentuk yang cukup menyeramkan dan memiliki gerakan yang sangat cepat pada saat menyerang musuh.


6, Flower Hat Jelly.
Flower Hat Jelly merupakan salah satu jenis ubur-ubur yang sudah langka di dunia. Memiliki ukuran tubuh yang kecil namun kategori ubur-ubur ini sangat mencolok karena warna yang ia miliki ungu dan orange.
Walaupun Flower Hat Jelly bertubuh kecil, namun ia dapat menyengat dengan baik dan menimbulkan rasa yang menyakitkan. Anda dapat menemukan jenis ubur-ubur ini di perairan Jepang, Brazil dan Argentina.


7, Moon Jellyfish.
Ubur-ubur yang memiliki banyak nama ini merupakan salah satu ubur-ubur tercantik dan sudah terkenal di Dunia.
Dengan tampilan yang terlihat tembus pandang menambah kecantikan dari Moon Jellyfish. namun, Moon Jellyfish jenis ubur-ubur yang tidak dapat bertahan lama untuk hidup, dan akan mati beberapa bulan setelah ber reproduksi.

FAKTA UNIK PLATYPUS



Platipus atau bernama latin Ornithorhynchus anatinus adalah hewan semi-akuatik yang banyak ditemui di bagian timur benua Australia. Walaupun platipus bertelur, tetapi mereka tergolong ke dalam kelas mamalia, karena menyusui anaknya. Meski terlihat unik dan menggemaskan, faktanya platipus ternyata merupakan hewan beracun. berikut adalah fakta unik platipus.


1, Paruh platipus adalah indra keenam.
Paruh platipus mempunyai kemampuan elektroreseptor dan mekanoreseptor, alias pendeteksi aliran listrik dan pendeteksi gerakan. Karena itu, platipus tetap dapat mendeteksi gerakan di dasar sungai berlumpur. 


2, Mamalia yang bertelur.
Meski bertelur, platipus tergolong mamalia, karena menyusui anaknya. Istilah mamalia berasal dari bahasa latin mamma, yang berarti payudara. Namun tidak melalui payudara, platipus menyusui anaknya melalui perutnya. Jantan Platipus tidak berperan dalam membesarkan keturunan setelah kawin. Betina melahirkan telur selama dua hingga empat minggu diikuti oleh minggu inkubasi lagi.
Begitu mereka menetas, anak langsung menghisap susu khusus selama beberapa bulan sebelum mereka menjadi mandiri.


3, Platipus hewan yang beracun.
Platipus memiliki taji yang beracun. Platipus jantan mengeluarkan racun melalui taji pergelangan kaki, sementara betina tidak berbisa. Racunnya terdiri dari protein mirip defensin. Racunnya bisa sangat melukai namun tidak membunuh manusia, meski bisa mematikan bagi hewan yang lebih kecil.


4, Platipus tidak mempunyai gigi dan lambung.
Platipus tidak mempunyai gigi, dan mereka tidak memiliki kantung enzim pencernaan atau asam untuk memecahnya. mereka makan dengan cara menelan makanannya bersamaan dengan batu-batu kecil. Mereka muncul ke permukaan untuk mencari udara dan mulai mengunyah dengan menggiling kerikil dan mangsanya bersama-sama. Jenis makanan platypus, yakni cacing, udang, dan hewan kecil yang hidup di dasar sungai.


5, Platipus sempat dikira bukan hewan sungguhan.
Platipus memiliki bentuk tubuh seperti gabungan dari bebek dan berang-berang. Bahkan George Shaw, naturalis abad 19 yang pertama menemukan platipus mengakui, platipus secara natural mirip seperti hewan buatan, karena Secara fisik, penampilan platipus tergolong unik, seperti paruh dan kaki bebek, namun tubuh, ekor, dan bulu berbentuk berang-berang.

RAJA YANG TERKENAL PADA MASA KERAJAAN ISLAM


 

Penyebaran agama Islam di Nusantara tidak lepas dari kegiatan perdagangan antarnegara yang telah terjadi sejak zaman kerajaan. Daerah Barus Tapanuli Tengah, Sumatera Utara menjadi lokasi pertama masuknya Islam di Nusantara.

Sejak saat itu, penyebaran Islam pun semakin meluas hingga tersebar ke seluruh penjuru Nusantara. Selain menciptakan budaya baru, lahirnya Islam di Nusantara juga melahirkan sejumlah tokoh-tokoh terkenal. Berikut adalah tokoh pahlawan terkenal pada masa kerajaan Islam.

1, Raden Patah.

Raden Patah adalah tokoh kerajaan Islam yang menjadi pendiri dari Kesultanan Demak, yang memerintah dari tahun 1500 hingga 1518. Pemimpin kelahiran Palembang pada 1455 itu memiliki nama asli Jin Bun. Nama Tionghoa tersebut dia dapatkan karena darah Tionghoa yang menurun dari sang ibu. raden patah menolak menjadi adipati palembang, lalu ia kabur ke pulau Jawa ditemani saudaranya, Raden Kusen. Sesampainya di Jawa, keduanya berguru pada Sunan Ampel di Surabaya. Raden Kusen kemudian mengabdi ke Majapahit, sedangkan Raden Patah pindah ke Jawa Tengah dan membuka hutan Glagahwangi menjadi sebuah pesantren. Raden Kusen yang kala itu sudah diangkat menjadi Adipati Terung, diperintah oleh brawijaya untuk memanggil Raden Patah. Raden Kusen menghadapkan Raden Patah ke Majapahit. Brawijaya merasa terkesan dan akhirnya mau mengakui Raden Patah sebagai putranya. Raden Patah pun diangkat sebagai bupati, sedangkan Glagahwangi diganti nama menjadi Demak, dengan ibu kota bernama Bintara. Di bawah kekuasaannya, Islam menyebar luas di daerah Jawa. Raden Patah merupakan satu sosok pahlawan yang ikut berjuang melawan penjajahan atas bangsa Portugis. Dalam perjuangannya, Raden Patah berusaha mengusir Portugis yang telah menduduki Selat Malaka dengan mengutus para pasukannya di bawah kepemimpinan putranya, Pati Unus.

2, Sultan Hasanuddin.

Selanjutnya ada Sultan Hasanuddin yang dikenal dengan julukan Ayam Jantan dari Timur. Sultan Hasanuddin merupakan putra dari Sultan Gowa ke-15, yang lahir pada 12 Januari 1631 di Makassar. Jiwa kepemimpinannya sudah menonjol sejak kecil. Selain dikenal sebagai sosok yang cerdas, dia juga pandai berdagang. Karena itulah dia memiliki jaringan dagang yang bagus hingga Makassar, bahkan dengan orang asing. Saat memasuki usia 21 tahun, Hasanuddin diamanatkan jabatan urusan pertahanan Gowa. Di masa pemerintahannya, Kerajaan Gowa Tallo mencapai masa kejayaan. Bahkan, Sultan Hasanuddin berhasil melebarkan wilayah kekuasaannya ke berbagai daerah-daerah yang subur, seperti Soppeng, Bone, dan Wajo. Maka tidak heran jika jalur perdagangan Indonesia Timur berada di tangannya.

Hasanuddin dikenal atas perjuangannya melawan VOC Belanda yang melakukan monopoli di wilayah kekuasaannya. Atas kegigihan dan keberaniannya, Sultan Hasanuddin ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 6 November 1973.

3, Sultan Iskandar Muda.

Sultan Iskandar Muda adalah penguasa Kerajaan Aceh yang memerintah pada tahun 1607 hingga 1636. Dia merupakan putra dari pasangan Mansyur Syah dengan Paduka Syah Alam yang lahir pada 1593. Sultan Iskandar Muda telah menduduki takhta dalam usia yang sangat muda, yaitu di antara 18 hingga 19 tahun.

Ketika Sultan Iskandar Muda mulai berkuasa pada tahun 1607, ia segera melakukan ekspedisi angkatan laut yang menyebabkan ia mendapatkan kontrol yang efektif di daerah barat laut Indonesia. Kendali kerajaan terlaksana dengan lancar di semua pelabuhan penting di pantai barat Sumatra dan di pantai timur, sampai ke Asahan di selatan. Pelayaran penaklukannya dilancarkan sampai jauh ke Penang, di pantai timur Semenanjung Melayu, dan pedagang asing dipaksa untuk tunduk kepadanya. Kerajaannya kaya raya, dan menjadi pusat ilmu pengetahuan.

Di bawah kekuasaannya, Aceh berada di masa keemasan. Dia berhasil menyatukan bangsa-bangsa Melayu, mulai dari Semenanjung Malaya, Sumatera, Kalimantan, hingga Jawa Barat. Selain itu, Aceh juga menjadi salah satu pusat perdagangan dunia, di mana rempah-rempah menjadi komoditas utama. Iskandar Muda mampu menjalankan negaranya dengan adil di bawah sistem undang undang dan peraturan Negara. Selama 30 tahun masa pemerintahannya, Sultan Iskandar Muda telah membawa Kerajaan Aceh Darussalam dalam kejayaan. Saat itu, kerajaan ini telah menjadi kerajaan Islam ke 5 terbesar di dunia, setelah kerajaan Islam Maroko, Isfahan, Persia dan Agra. Seluruh wilayah semenanjung Melayu telah disatukan di bawah kerajaannya dan secara ekonomi, Kerajaan Aceh Darussalam telah memiliki hubungan diplomasi perdagangan yang baik secara internasional.  Keberhasilannya dalam membangun kekuatan Aceh menjadikan Sultan Iskandar Muda diangkat sebagai Pahlawan Nasional.

4, Sultan Ageng Tirtayasa.

Berikutnya adalah Sultan Ageng Tirtayasa yang merupakan Sultan Banten ke-6. Dia adalah putra dari Sultan Abdul Ma’ali Ahmad dan Rau Martakusuma, dengan nama kecil Abdul Fatah. Semasa memerintah, sultan ageng Tirtayasa berusaha meningkatkan kesejahteraan rakyat dengan membuka sawah-sawah baru dan mengembangkan irigasi.

Di bidang keagamaan, Sultan Ageng Tirtayasa mengangkat Syekh Yusuf sebagai mufti sekaligus penasehat kesultanan. Ia juga memberikan kepercayaan kepada Syekh Yusuf untuk mendidik anak-anaknya tentang agama. Sultan Ageng Tirtayasa melakukan banyak perlawanan terhadap Belanda. Sultan menolak perjanjian monopoli perdagangan yang diajukan VOC dan menjadikan Banten sebagai pelabuhan terbuka. Perlawanannya membuat Belanda kewalahan sehingga VOC pun harus menggunakan taktiknya. VOC bersekutu dengan salah satu putra Ageng Tirtayasa, Sultan Haji, untuk menyingkirkan ayahnya. Sultan Ageng Tirtayasa pun tertangkap pada tahun 1683 dan dibuang ke Batavia, hingga wafat pada 1692. Pada 1 Agustus 1970, Sultan Ageng Tirtayasa secara resmi dinyatakan sebagai Pahlawan Nasional.

 5, Sultan Agung Hanyokrokusumo.
Kerajaan Mataram merupakan salah satu kerjaaan Islam di nusantara. Sultan Agung Hanyokrokusumo memerintah Kerajaan Mataram pada tahun 1613 hingga 1645.
Semenjak kedatangan Belanda, mereka berdaulat atas Banten. Klaim itu mendesak Sultan Agung untuk melancarkan penaklukan militer sebagai upaya untuk mengambil alih Banten dari pengaruh Belanda.
Pada 1628, Sultan Agung dan pasukan Mataram mulai menyerbu Belanda di Batavia. Tahap awal melawan Batavia terbukti sulit karena kurangnya dukungan logistik untuk pasukan Mataram. Kegagalan serangan pertama diantisipasi dengan cara mendirikan lumbung-lumbung beras tersembunyi di Karawang dan Cirebon. Namun pihak Belanda yang menggunakan mata-mata berhasil menemukan dan memusnahkan semuanya. Hal ini menyebabkan pasukan Mataram kurang perbekalan, ditambah wabah penyakit malaria dan kolera yang melanda mereka, sehingga kekuatan pasukan Mataram tersebut sangat lemah ketika mencapai Batavia.
Sultan Agung kembali menyerang Batavia untuk kedua kalinya pada tahun 1629. dengan total 14.000 orang prajurit, serangan kedua Sultan Agung ini berhasil membendung dan mengotori sungai Ciliwung, yang mengakibatkan timbulnya wabah penyakit kolera melanda Batavia. Gubernur jenderal Belanda yaitu J.P. Coen meninggal menjadi korban wabah tersebut.

FAKTA UNIK BURUNG MERAK



Siapa yang tak kenal burung anggun nan berbulu indah yang satu ini? Keindahan warna dan kepakan ekornya bisa memukau banyak orang. Coraknya begitu mengagumkan dan mayoritas didominasi oleh warna biru tua dan hijau.
Namun ternyata burung merak memiliki banyak keunikan yang jarang diketahui. berikut adalah fakta unik burung merak.


1, Burung merak tidak lahir dengan bulu yang lebat dan indah.
Tak seperti saat dewasa di mana burung yang satu ini memiliki bulu yang sangat mewah, merak kecil tidak lahir dengan bulu yang memukau. Disebut juga dengan peachick, merak jantan tidak memiliki bulu indah hingga berusia tiga tahun.
Dan pada saat masih kecil akan sangat sulit membedakan mana merak jantan dan merak betina dikarenakan mereka akan terlihat sangat mirip atau bahkan identik. Hingga pada usia sekitar enam bulan, barulah pejantan akan memiliki perubahan warna.


2, Memiliki spesies albino yang tak kalah indah.
Tak seperti burung merak kebanyakan, ternyata ada juga merak yang berbulu putih total. Sebagai hasil dari pembiakan yang sangat selektif, merak putih mengalami mutasi genetik yang disebut dengan leucism.
Mutasi ini mengakibatkan merak kehilangan pigmentasi pada beberapa sel penghasil pigmen sehingga merak dengan jenis ini sering disebut sebagai merak albino dan mutasi ini tidak menyebabkan perubahan pada warna matanya.


3, Burung merak jantan bisa mengirim sinyal acak ke merak betina.
Tak hanya memiliki bulu yang menawan, ternyata merak merupakan hewan yang cukup cerdas. Sebuah jurnal The American Naturalist menyebutkan bahwa burung merak jantan bisa memanggil sang betina saat ingin kawin. Panggilan ini bisa menarik banyak merak betina untuk mendekat.
Sinyal acak ini seringnya palsu untuk memikat merak betina. Merak jantan akan terlihat sangat berpengalaman saat kawin dan lebih hebat dari merak jantan lainnya demi menarik lebih banyak merak betina di sekitarnya.


4, Menjadi santapan lezat di Eropa pada abad pertengahan.
Mirip seperti halnya burung kalkun yang juga jadi santapan lezat, orang-orang di Eropa sudah lama mengonsumsi burung merak. Dahulu burung ini dipanggang dan kemudian disajikan dengan didandani kembali dengan bulunya di meja makan.
Kelihatannya memang menarik dan menggoda tetapi konon rasanya tidaklah enak. Dagingnya cenderung keras dan sulit untuk dicerna sehingga lebih baik untuk tidak mengkonsumsi burung yang satu ini.


5, Merak betina membesarkan anak seorang diri.
Burung merak betina bertugas untuk membesarkan anaknya seorang diri. Merak betina membuat lubang pada tanah untuk menaruh tiga sampai delapan telur, kemudian mengeraminya selama empat minggu.
Meski merak betina tidak memiliki bulu secantik merak jantan, bulu mereka tetap berguna untuk melindungi telur dari para predator. Setelah anak merak menetas, dua minggu kemudian mereka sudah bisa hinggap ke atas pohon, dilindungi oleh sayap induknya.

KERAJAAN ISLAM TERTUA DI NUSANTARA

 

Kesultanan Perlak adalah kerajaan Islam di Indonesia, dan merupakan kesultanan yang berkuasa di sekitar wilayah Peureulak Aceh, disebut-sebut antara tahun 840, sampai dengan tahun 1292.  Perlak terkenal sebagai suatu daerah penghasil kayu perlak, jenis kayu yang sangat bagus untuk pembuatan kapal, dan karenanya daerah ini dikenal dengan nama "Negeri Perlak".

Hasil alam dan posisinya yang strategis membuat Perlak berkembang sebagai pelabuhan niaga yang maju pada abad ke-8, disinggahi oleh kapal-kapal yang antara lain berasal dari Arab dan Persia. Hal ini membuat berkembangnya masyarakat Islam di daerah ini, terutama sebagai akibat perkawinan campur antara saudagar muslim dengan perempuan setempat.

Geografis Kerajaan Peureulak.

Selat Malaka sejak zaman dahulu terkenal sebagai jalur perdagangan utama Nusantara. Pedagang dari berbagai penjuru dunia berlayar melalui selat tersebut untuk melakukan perdagangan, dari selat tersebut masuk lah ajaran agama-agama baru ke Nusantara.

Sebelum berdirinya Kesultanan Malaka, pelayaran selat Malaka tidak melalui pantai Semenanjung Malaya, melainkan melalui sisi barat Selat Malaka menyisiri pantai-pantai Sumatera. Kota pelabuhan terpenting pada waktu itu adalah Melayu yang terletak di muara Sungai Batanghari, Jambi.

Pada bulan Desember hingga Maret di sebelah utara khatulistiwa bertiup lah angin musim timur laut, yang memungkinkan kapal-kapal dagang India dan negeri Cina berlayar ke perairan Selat Malaka. Kapal-kapal tersebut bertahan di perairan Selat Malaka hingga bulan Mei, sebelum mereka berlayar untuk kembali ke negeri masing-masing dengan memanfaatkan angin musim barat daya.

Hasil bumi Sumatera turut meramaikan perdagangan internasional di Selat Malaka. Daerah penghasil lada yang utama pada waktu itu adalah Aceh. Menurut para pedagang Arab dan Cina, penanaman lada di Aceh telah dimulai sejak abad ke-9, yakni di daerah-daerah Perlak, Lamuri, dan Samudra.

Meskipun demikian, lada bukan lah tanaman asli Aceh, melainkan tanaman dari Malagasi atau Madagaskar. Para pedagang dari Arab dan Persia membawa lada ke Aceh dan mencoba menanamnya di daerah tersebut. Dari percobaan tersebut ternyata tanah dan iklim Aceh sangat cocok untuk membudidayakan tanaman lada.

Dalam waktu singkat Aceh pun tumbuh menjadi daerah penghasil dan pengekspor terbesar lada pada masa itu. Bandar Perlak dijadikan bandar utama di pantai timur Sumatera bagian utara. Wilayah tersebut terus tumbuh dan berkembang hingga menjadi kota perdagangan internasional, yang banyak disinggahi pedagang dari penjuru dunia, termasuk pedagang muslim.

Hikayat Aceh.

Naskah Hikayat Aceh mengungkapkan bahwa penyebaran Islam di bagian utara Sumatra dilakukan oleh seorang ulama Arab yang bernama Syeikh Abdullah Arif pada tahun 506 Hijriah atau 1112 Masehi. Lalu berdirilah kesultanan Peureulak dengan sultannya yang pertama Alauddin Syah yang memerintah tahun 520 sampai 544 Hijriah atau 1161sampai 1186 masehi. Sultan yang telah ditemukan makamnya adalah Sulaiman bin Abdullah yang wafat tahun 608 Hijriah atau 1211 Masehi.

Buku Zhufan Zhi, yang ditulis Zhao Rugua tahun 1225, mengutip catatan seorang ahli geografi, Chou Ku-fei, tahun 1178, bahwa ada negeri orang Islam yang jaraknya hanya lima hari pelayaran dari Jawa. Mungkin negeri yang dimaksudkan adalah Peureulak, sebab Zhufan Zhi menyatakan pelayaran dari Jawa ke Brunei memakan waktu 15 hari. Eksistensi negeri Peureulak ini diperkuat oleh musafir Venesia yang termasyhur, Marco Polo, satu abad kemudian. Ketika Marco Polo pulang dari Tiongkok melalui laut pada tahun 1291, dia singgah di negeri Ferlec yang sudah memeluk agama Islam.

Perkembangan dan pergolakan.

Sultan pertama Perlak adalah Sultan Alaiddin Syed Maulana Abdul Aziz Shah dan Sayyidatina Fatimah Az-Zahra Putri Rasulullah SAW, yang beraliran Syi'ah dan merupakan keturunan Rasulullah, ayahnya menikah dengan perempuan setempat di aceh, yaitu anak sultan perlak aceh, yang mendirikan Kesultanan Perlak pada 840 Masehi. Ia mengubah nama ibu kota kerajaan dari Bandar Perlak menjadi Bandar Khalifah. Sultan ini bersama istrinya, Putri Meurah Mahdum Khudawi, kemudian dimakamkan di Paya Meuligo, Peureulak, Aceh Timur.

Pada masa pemerintahan sultan ketiga, Sultan Alaiddin Syed Maulana Abbas Shah, islam mulai luas dikenal ke Perlak. Setelah wafatnya sultan pada tahun 913 Masehi, terjadi perang saudara antara kaum muslimin korban adu domba, sehingga selama dua tahun berikutnya tak ada sultan.

Sultan Ali Mughat Shah yang beraliran Syi'ah memenangkan perang, dan pada tahun 915 Masehi, Sultan Alaiddin Syed Maulana Ali Mughat Shah naik tahta. Pada akhir pemerintahannya terjadi lagi pergolakan antara kaum muslimin, sebab adu domba yang kali ini dimenangkan oleh Sultan Abdul Malik Shah Johan Berdaulat, sehingga sultan-sultan berikutnya diambil dari golongan Johan Berdaulat.

Pada tahun 956 Masehi, setelah meninggalnya sultan ketujuh, Sultan Makhdum Alaiddin Abdul Malik Shah Johan Berdaulat, terjadi lagi pergolakan selama kurang lebih empat tahun antara kaum muslimin, yang diakhiri dengan perdamaian dan pembagian kerajaan menjadi dua bagian:

Perlak Pesisir dipimpin oleh Sultan Alaiddin Syed Maulana Shah.

Perlak Pedalaman dipimpin oleh Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ibrahim Shah Johan Berdaulat.

Sultan Alaiddin Syed Maulana Shah meninggal sewaktu Kedatuan Sriwijaya menyerang Perlak, dan seluruh Perlak kembali bersatu di bawah pimpinan Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ibrahim Shah Johan Berdaulat, yang melanjutkan perjuangan melawan Sriwijaya hingga tahun 1006.

 

Serangan Sriwijaya.

Pada tahun 986 Masehi, Kedatuan Sriwijaya menyerang Kesultanan Peureulak Pesisir. Peperangan hebat pun pecah yang melibatkan pasukan kedua kerajaan tersebut. Dalam perang ini, Sultan Peureulak Pesisir, yaitu Sultan Alaiddin Syad Maulana Mahmud Syah gugur dalam peperangan.

Pasca gugurnya Sultan Peureulak Pesisir, wilayah kesultanan Perlak secara keseluruhan akhirnya dikuasai oleh Sultan Peureulak Pedalaman. Kehadiran pasukan Sriwijaya di wilayah Peureulak, segera direspon oleh Sultan Malik Ibrahim Syah dengan mengobarkan semangat rakyat Peureulak untuk melawan Sriwijaya.

Pertempuran besar pun terjadi selama bertahun-tahun. Perang antara kedua kerajaan itu baru berakhir pada tahun 1006 Masehi, ketika Sriwijaya memutuskan mundur dari pertempuran untuk bersiap menghadapi serangan raja Dharmawangsa dari Kerajaan Medang di Jawa.

Dengan berakhirnya perang antara Kesultanan Peureulak dan Kedatuan Sriwijaya, wilayah Peureulak secara keseluruhan dipimpin oleh keturunan Sultan Malik Ibrahim Syah. Pada masa ini kondisi Kesultanan Perlak relatif damai, tanpa adanya peperangan melawan kerajaan luar.

Penyatuan dengan Samudera Pasai.

Sultan ke-17 Perlak, Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Amin Shah II Johan Berdaulat, menjalankan politik persahabatan dengan menikahkan dua orang putrinya dengan penguasa negeri tetangga Peureulak:

Putri Ratna Kamala, dikawinkan dengan Raja Kerajaan Malaka, Sultan Muhammad Shah.

Putri Ganggang, dikawinkan dengan Raja Kerajaan Samudera Pasai, Al Malik Al-Saleh.

Sultan terakhir Perlak adalah sultan ke-18, Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdul Aziz Johan Berdaulat. Setelah ia meninggal, Perlak disatukan dengan Kerajaan Samudera Pasai di bawah pemerintahan sultan Samudera Pasai, Sultan Muhammad Malik Al Zahir, putra Al Malik Al-Saleh.

KERAJAAN BERCORAK ISLAM, GOWA TALLO


 

Gowa atau Bate Salapang, adalah sebuah kerajaan dan kesultanan yang berpusat di daerah Sulawesi Selatan, tepatnya di jazirah selatan dan pesisir barat semenanjung, yang mayoritasnya didiami oleh suku Makassar. Wilayah inti bekas kerajaan ini sekarang berada di bawah Kabupaten Gowa, Kotamadya Makassar dan Kabupaten Takalar saat ini.

Berawal dari chiefdom, atau banua yang didirikan pada awal abad ke-14, Kerajaan Gowa mencapai puncak kejayaannya bersama Kerajaan Tallo sekitar tahun 1511 hingga 1669. Ketika kerajaan ini memegang hegemoni militer dan perdagangan atas wilayah timur Nusantara, termasuk di antaranya sebagian besar Sulawesi, beberapa bagian dari Maluku dan Nusa Tenggara, pesisir timur Kalimantan hingga Wilayah Utara. Dalam prosesnya menjadi kekaisaran maritim, Kerajaan Gowa mengembangkan berbagai inovasi dalam bidang pemerintahan, ekonomi dan militer. Perubahan sosial budaya yang drastis juga terjadi seiring mengeratnya hubungan antara Kerajaan Gowa dan dunia luar, terutama setelah Kerajaan Gowa mengadopsi Islam sebagai agama resmi pada awal tahun 1607.

Kekalahan Kerajaan Gowa dalam Perang Makassar yang terjadi pada tahun 1669, mengakibatkan lepasnya wilayah kekuasaan Kerajaan Gowa di luar Sulawesi Selatan, sementara sebagian kecil wilayahnya diberikan kepada VOC. Meski begitu, Kerajaan Gowa tetap bertahan sebagai negeri merdeka hingga awal abad ke-20, ketika pemerintah kolonial Belanda mengalahkan Gowa dalam Ekspedisi Sulawesi Selatan, dan menjadikannya daerah jajahan.

Sejarah awal.

Naskah Lontara Patturioloang Gowa menyebutkan bahwa, keturunan penguasa Kerajaan atau Kesultanan Gowa berawal dari perkawinan Tumanurung, yang secara harafiah dapat diartikan orang tidak diketahui asal muasalnya secara pasti, dengan seorang bangsawan yang hanya dikenali dengan Karaeng Bayo, sebagai perkawinan antara wanita bangsawan setempat dan penguasa. Bangsawan-bangsawan Bate Salapang di Gowa pun bersepakat membentuk negeri dan mengangkat mereka berdua suami-istri sebagai penguasa. Bukti genealogis dan arkeologis mengisyaratkan bahwa pembentukan negeri Gowa terjadi pada sekitar tahun 1320 Masehi. Para ahli mengaitkan kemunculan Kerajaan Gowa dan negeri-negeri di Sulawesi Selatan lainnya, dengan intensifikasi pertanian dan pemusatan pemerintahan besar-besaran pada abad ke-14, yang dipicu oleh naiknya permintaan luar bagi beras Sulawesi Selatan. Kepadatan penduduk turut meningkat seiring dengan pergantian dari budaya meladang, kepada budi daya padi lahan basah secara intensif. Hutan-hutan di pedalaman semenanjung pun dibuka untuk memberi tempat bagi pemukiman-pemukiman agraris baru, termasuk Gowa yang awalnya juga merupakan chiefdom pedalaman yang berbasiskan budi daya padi.

Dalam perang tahta antara dua putra "Sombaya ri Gowa" atau Raja di Kerajaan Gowa yang ke-enam pada akhir abad ke-15, Batara Gowa Tuniawanga ri Parallakkenna mengalahkan saudaranya, Karaeng Loe ri Sero'. Karaeng Loe ri Sero' kemudian menuju ke muara Sungai Tallo dan mendirikan negeri baru yang dikemudian hari dinamakan Tallo, yang kemudian berkembang menjadi negara maritim berbasis niaga.  Hingga abad ke-16, bagian barat Sulawesi Selatan terdiri dari negeri-negeri sama kuatnya yang saling bersekutu dan bersaing satu sama lain, tanpa ada satu pun yang mampu menguasai keseluruhannya. Putra Batara Gowa, Karaeng Tumapaʼrisiʼ Kallonna, memecahkan keadaan status quo ini dengan menaklukkan pesisir Garassi' serta menyerang setidaknya 13 negeri bersuku Makassar lainnya. Pada akhir 1530  atau awal 1540, Kerajaan Gowa memenangkan perang melawan Kerajaan Tallo dan sekutu-sekutunya. Kerajaan Gowa pun menjadi negeri paling dominan di tanah suku Makassar dan diakui sebagai saudara tua oleh Kerajaan Tallo. Sombaya Tumapaʼrisiʼ Kallonna mengembangkan birokrasi kerajaan dengan menunjuk Daeng Pamatteʼ sebagai syahbandar pertama. Penyusunan catatan sejarah serta hukum tertulis kerajaan juga dimulai pada masa pemerintahannya. Ia juga kemungkinan merupakan penguasa Kerajaan Gowa yang pertama kali membangun benteng Somba Opu.

Penguasa Kerajaan Gowa berikutnya, Karaeng Tunipalangga, memperluas pengaruh Kerajaan Gowa melalui serangkaian agresi militer. Ia juga melakukan inovasi dalam bidang teknologi persenjataan dan pertahanan. Pada masa pemerintahannya, Kerajaan Gowa mengalahkan seluruh pesaingnya di pesisir barat dan memperluas pengaruhnya hingga ke wilayah Sulawesi Tengah. Sombaya Tunipalangga juga menerima orang-orang Melayu dan Nusantara Barat lainnya untuk bermukim dan sekaligus berniaga di negerinya. Ia bahkan mengadakan perjanjian dengan salah satu pemimpin mereka, dan memperbolehkan mereka untuk tinggal secara permanen di dalam wilayah Kerajaan Gowa tanpa harus mengikuti hukum adat setempat. Para pedagang ini kemungkinan juga turut terlibat dalam reformasi ekonomi yang berkontribusi pada kemajuan pesat Kerajaan Gowa, sebagai bandar persinggahan utama di Nusantara bagian timur kala itu. Sombaya Tunipalangga juga mengembangkan birokrasi Kerajaan Gowa lebih lanjut dengan menciptakan jabatan Tumilalang yang artinya mentri dalam negri, untuk mengambil alih tugas-tugas syahbandar, serta mengangkat Tumakkajannangngang atau kepala pengrajin yang bertugas mengawasi pekerjaan. Tumakkajannangngang adalah jabatan Panglima Angkatan perang Kerajaan atau kesultanan Gowa yang di masa pemerintahan raja atau Sombaya ri Gowa ke 15, jabatan tersebut diduduki oleh putra Beliau yaitu I Mallombasi Daeng Mattawang Sultan Hasanuddin Tumenanga ri Balla'pangkana, yang dijuluki oleh admiral VOC Cornelius Spellman dengan julukan Ayam Jantan dari Timur.

Perluasan pengaruh Kerajaan Gowa di pesisir barat memicu respons agresif dari Kerajaan Bone di sebelah timur. Perang meletus pada awal 1560, dan baru berakhir pada 1565, dengan kekalahan Gowa. Karaeng Tunibatta, saudara dan penerus Sombaya Tunipalangga, mati dipenggal oleh musuh.

Selepas kematian Tunibatta, penguasa Kerajaan Tallo I Mappatakangkang Tana Daeng Padulung Tumenanga ri Makkoayang naik sebagai Tuma'bicara butta atau juru bicara negeri pertama di Gowa, dan mengangkat Karaeng Tunijalloʼ, putra Karaeng Tunibatta, sebagai penguasa Gowa. Sejak saat itu, penguasa Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo berbagi posisi dalam memimpin keseluruhan negeri Gowa dan negeri Tallo secara bersama-sama. Karaeng Tunijalloʼ mengakhiri peperangan dengan menandatangani Perjanjian Caleppa antara Kerajaan Gowa dan Kerajaan Bone, yang mempertahankan kedamaian di semenanjung selama kurang lebih enam belas tahun berikutnya. Selama itu pula, Sombaya Tunijalloʼ dan Karaeng Tumenanga ri Makkoayang melanjutkan kebijakan-kebijakan pro-perniagaan penguasa sebelumnya dan mengikat persahabatan dengan negeri-negeri lain di Nusantara.

Pada tahun 1666, di bawah pimpinan Laksamana Cornelis Speelman, VOC berusaha menundukkan kerajaan-kerajaan kecil di Sulawesi, tetapi belum berhasil menundukkan Kesultanan Gowa. Di lain pihak, setelah Sultan Hasanuddin naik tahta, ia berusaha menggabungkan kekuatan kerajaan-kerajaan kecil di Indonesia bagian timur untuk melawan VOC.

Pertempuran terus berlangsung, VOC menambah kekuatan pasukannya, hingga pada akhirnya Gowa terdesak dan semakin lemah sehingga pada tanggal 18 November 1667 bersedia mengadakan Perjanjian Bungaya di Bungaya. Gowa merasa dirugikan, karena itu Sultan Hasanuddin mengadakan perlawanan lagi. Akhirnya pihak VOC minta bantuan tentara ke Batavia. Pertempuran kembali pecah di berbagai tempat. Sultan Hasanuddin memberikan perlawanan sengit. Bantuan tentara dari luar menambah kekuatan pasukan VOC, hingga akhirnya Kompeni berhasil menerobos benteng terkuat milik Kesultanan Gowa yaitu Benteng Somba Opu pada bulan Juni 1669. Sultan Hasanuddin kemudian mengundurkan diri dari tahta kerajaan dan wafat pada tanggal 12 Juni 1670.

Kesultanan Gowa telah mengalami pasang surut dalam perkembangan sejak Raja Gowa ke-1, Tumanurung, hingga mencapai puncak keemasannya pada abad ke-17, hingga kemudian mengalami masa penjajahan di bawah kekuasaan Belanda. Dalam pada itu, sistem pemerintahan mengalami transisi pada masa Raja Gowa ke-36, Andi Idjo Karaeng Lalolang Sultan Muhammad Abdul Kadir Aidudin, menyatakan Kesultanan Gowa bergabung menjadi bagian Republik Indonesia yang merdeka dan bersatu, dan berubah bentuk dari kerajaan menjadi Daerah Tingkat II Kabupaten Gowa. Sehingga dengan perubahan tersebut, Andi Idjo pun tercatat dalam sejarah sebagai Raja Gowa terakhir dan sekaligus Bupati Kabupaten Gowa pertama.

S
Sales Chat 24 JamSiap bantu pilih produk