SEJARAH INDONESIA PADA ERA KOLONIAL


 


Alfonso de Albuquerque, Karena tokoh inilah, yang membuat kawasan Nusantara waktu itu dikenal oleh orang Eropa, dan dimulainya kolonisasi berabad-abad oleh Portugis bersama bangsa Eropa lain, terutama Britania dan Belanda, juga Spanyol dalam waktu yang singkat.

Dari Sungai Tajo yang bermuara ke Samudra Atlantik itulah armada Portugis mengarungi Samudra Atlantik, yang mungkin memakan waktu sebulan hingga tiga bulan, melewati Tanjung Harapan di Afrika, menuju Selat Malaka. Dari sini penjelajahan dilanjutkan ke Kepulauan Maluku untuk mencari rempah-rempah, komoditas yang setara emas kala itu.

Pada abad ke-16 saat petualangan itu dimulai, biasanya para pelaut negeri Katolik itu diberkati oleh pastor dan raja sebelum berlayar melalui Sungai Tagus. Biara Dos Jeronimos itu didirikan oleh Raja Manuel pada tahun 1502, di tempat saat Vasco da Gama memulai petualangan ke timur.

Ada sejumlah motivasi mengapa Kerajaan Portugis memulai petualangan ke timur. Ahli sejarah dan arkeologi Islam, Uka Tjandrasasmita, dalam buku Indonesia Portugal, menyebutkan tidak hanya ada satu motivasi Kerajaan Portugis datang ke Asia. Ekspansi itu mungkin dapat diringkas dalam tiga kata yaitu emas, kejayaan, dan gereja, atau perdagangan, dominasi militer, dan penyebaran agama Katolik.

Menurut Uka, Albuquerque, Gubernur Portugis Kedua dari Estado dan India, Kerajaan Portugis di Asia, merupakan arsitek utama ekspansi Portugis ke Asia. Dari Goa, ia memimpin langsung ekspedisi ke Malaka dan tiba di sana awal Juli 1511, membawa 15 kapal besar dan kecil, serta 600 tentara. Ia dan pasukannya mengalahkan Malaka pada 10 Agustus 1511. Sejak itu Portugis menguasai perdagangan rempah-rempah dari Asia ke Eropa. Setelah menguasai Malaka, ekspedisi Portugis yang dipimpin Antonio de Abreu mencapai Maluku, pusat rempah-rempah.

Periode kolonisasai Portugis di Nusantara.

Periode 1511 hingga 1526, selama 15 tahun, Nusantara menjadi pelabuhan maritim penting bagi Kerajaan Portugis, yang secara reguler menjadi rute maritim untuk menuju Pulau Sumatra, Jawa, Banda, dan Maluku.

Pada tahun 1511, Portugis mengalahkan Kerajaan Malaka.

Pada tahun 1522, Portugis sudah sampai di Pelabuhan Sunda untuk menandatangani perjanjian dagang dengan Raja Sunda. Perjanjian dagang tersebut dilakukan pada tanggal 21 Agustus 1522. Pada hari yang sama, dibangun sebuah prasasti yang disebut Prasasti Perjanjian Sunda-Portugal di suatu tempat, yang saat ini menjadi sudut Jalan Cengkih dan Jalan Kali Besar Timur 1, Jakarta Barat. Dengan perjanjian ini maka Portugis dibolehkan membangun gudang atau benteng di Sunda Kelapa.

Pada 1512, Afonso de Albuquerque mengirim sebuah ekspedisi yang terdiri dari dua kapal dan sebuah karavel di bawah pimpinan Antonio de Abreu untuk mencari kepulauan rempah-rempah.

Pada kedatangan Portugis berikutnya pada tahun 1513, Ternate merasa dirugikan oleh Portugis karena keserakahannya dalam memperoleh keuntungan melalui usaha monopoli perdagangan rempah-rempah.

Pada tahun 1533, Sultan Ternate menyerukan kepada seluruh rakyat Maluku untuk mengusir Portugis di Maluku. Pada tahun 1570, rakyat Ternate yang dipimpin oleh Sultan Hairun dapat kembali melakukan perlawanan terhadap bangsa Portugis, namun dapat diperdaya oleh Portugis hingga akhirnya tewas terbunuh di dalam Benteng Duurstede. Selanjutnya dipimpin oleh Sultan Baabullah pada tahun 1574. Portugis diusir yang kemudian bermukim di Pulau Timor.

Di bawah kepemimpinan Jan Pieterszoon Coen, Kepala Operasional VOC, perdagangan cengkih di Maluku sepunuh di bawah kendali VOC selama hampir 350 tahun. Untuk keperluan ini VOC tidak segan-segan mengusir pesaingnya, yaitu Portugis, Spanyol, dan Inggris. Bahkan puluhan ribu orang Maluku menjadi korban kebrutalan VOC.

Kemudian mereka membangun benteng di Ternate tahun 1511, kemudian tahun 1512, membangun Benteng di Amurang Sulawesi Utara. Portugis kalah perang dengan Spanyol, maka daerah Sulawesi Utara diserahkan dalam kekuasaan Spanyol pada 1560 hingga 1660. Kerajaan Portugis kemudian dipersatukan dengan Kerajaan Spanyol. Pada abad ke 17 , datang armada dagang VOC  yang kemudian berhasil mengusir Portugis dari Ternate, sehingga kemudian Portugis mundur dan menguasai Timor timur sejak 1515.

Kolonialisme dan Imperialisme mulai merebak di Indonesia sekitar abad ke-15, yaitu diawali dengan pendaratan bangsa Portugis di Malaka, dan bangsa Belanda yang dipimpin Cornellis de Houtman pada tahun 1596, untuk mencari sumber rempah-rempah dan berdagang, kemudian bersaing dengan kerajaan Portugal dan Kerajaan Spanyol dalam dominasi perdagangan rempah di Nusantara. Belanda secara perlahan-lahan menjadi penguasa wilayah yang kini adalah Indonesia, dengan memanfaatkan Perselisihan dan perpecahan di antara kerajaan-kerajaan kecil yang telah menggantikan Majapahit.

Kehadiran Portugis di perairan dan kepulauan Indonesia itu telah meninggalkan jejak-jejak sejarah yang sampai hari ini masih dipertahankan oleh komunitas lokal di Nusantara, khususnya flores, Solor dan Maluku. Di Jakarta, terdapat Kampong Tugu yang terletak di antara Kali Cakung, pantai Cilincing, dan tanah Marunda. Penduduk kampung tersebut menamakan diri "orang Portugis" dan percaya bahwa mereka adalah turunan bangsa Portugis.

Bangsa Eropa pertama yang menemukan Maluku adalah Portugis, pada tahun 1512. Pada waktu itu 2 armada Portugis, masing-masing di bawah pimpinan Anthoni d'Abreu dan Fransisco Serau, mendarat di Kepulauan Banda dan Kepulauan Penyu. Setelah mereka menjalin persahabatan dengan penduduk dan raja-raja setempat, seperti dengan Kerajaan Ternate di pulau Ternate, Portugis diberi izin untuk mendirikan benteng di Pikaoli, yang terletak di antara Negeri Hitu Lama dan Mamala di Pulau Ambon sekarang. Namun hubungan dagang rempah-rempah ini tidak berlangsung lama, karena Portugis menerapkan sistem monopoli sekaligus melakukan penyebaran agama Kristen.

Salah seorang misionaris terkenal adalah Fransiskus Xaverius. Tiba di Ambon pada tahun 1546, kemudian melanjutkan perjalanan ke Ternate. Persahabatan Portugis dan Ternate berakhir pada tahun 1570. Pada akhir tahun 1575, bangsa Portugis menyerah kepada Sultan Babullah.

Perlawanan rakyat Maluku terhadap Portugis, dimanfaatkan Belanda untuk menjejakkan kakinya di Maluku. Pada tahun 1605, Belanda berhasil memaksa Portugis untuk menyerahkan pertahanannya di Ambon kepada Steven van der Hagen, dan di Tidore kepada Cornelisz Sebastiansz. Demikian pula benteng Inggris di Kambelo, Pulau Seram, dihancurkan oleh Belanda. Sejak saat itu Belanda berhasil menguasai sebagian besar wilayah Maluku.

Kedudukan Belanda di Maluku semakin kuat dengan berdirinya VOC pada tahun 1602, dan sejak saat itu Belanda menjadi penguasa tunggal di Maluku.

 

MENGENAL JENIS UBUR UBUR



Ubur-ubur merupakan salah satu hewan purba yang telah lama dijadikan penelitian oleh para ilmuwan, karena ubur-ubur sudah ada sejak 500 juta tahun yang lalu. Jenis ubur-ubur sangat beragam, ada yang berbahaya dan tidak berbahaya bagi manusia.
Hewan ini bertahan hidup dengan tentakel yang dapat menyengat. Ia dapat melepaskan sengatannya atau racun untuk berburu mangsa dan bertahan hidup. Berikut adalah beberapa jenis ubur ubur.


1, Phyllorhiza Punctata.
Ubur ubur jenis ini sering dijumpai terapung di permukaan air. Ubur-ubur ini memiliki ukuran sampai 50 cm, dan sengatannya tidak berbahaya. Anda dapat memanfaatkan cuka untuk menyembuhkan serangan dari ubur-ubur tersebut.


2, Jelly Bluber.
Jelly Bluber merupakan jenis ubur-ubur yang memiliki warna yang unik. Warnanya bukan berasal dari algae seperti ubur-ubur yang lainnya, melainkan dari pigmen warna yang dimiliki Jelly Bluber sendiri.
Jelly Bluber memiliki tentakel yang dapat menyengat dan menyakitkan, Namun sengatannya tidak menimbulkan resiko yang serius bagi manusia, hanya saja dapat menyebabkan gatal-gatal dan kulit menjadi merah.


3, Golden Jelly Fish.
Golden Jelly Fish atau ubur-ubur emas merupakan jenis ubur-ubur yang hidup di air asin. Ubur-ubur ini merupakan ubur-ubur yang tidak menyengat, karena ubur-ubur ini sudah terisolasi sangat lama, sehingga kehilangan sengatannya.
Golden Jelly Fish dapat ditemui di Raja Ampat, Papua Barat, Danau Kakaban dan masih banyak daerah lainnya di Indonesia. Golden Jelly Fish berbentuk seperti kubah yang berwarna emas.


4, Aequorea Victoria.
Aequorea Victoria atau dikenal sebagai kristal Jellyfish. Jenis ini merupakan salah satu ubur-ubur transparan yang dapat menyala ditempat gelap. Ubur-ubur ini banyak memiliki manfaat yang digunakan manusia untuk mengatasi masalah kesehatan.


5, Austraian Box Jellyfish.
Selain Aequorea Victoria, Austraian Box Jellyfish merupakan ubur-ubur transparan yang berbahaya. Ubur-ubur ini memiliki racun yang sangat berbahaya sehingga mampu membunuh puluhan manusia dalam hitungan detik. Tak hanya racun yang dimiliki, ubur-ubur ini juga memiliki bentuk yang cukup menyeramkan dan memiliki gerakan yang sangat cepat pada saat menyerang musuh.


6, Flower Hat Jelly.
Flower Hat Jelly merupakan salah satu jenis ubur-ubur yang sudah langka di dunia. Memiliki ukuran tubuh yang kecil namun kategori ubur-ubur ini sangat mencolok karena warna yang ia miliki ungu dan orange.
Walaupun Flower Hat Jelly bertubuh kecil, namun ia dapat menyengat dengan baik dan menimbulkan rasa yang menyakitkan. Anda dapat menemukan jenis ubur-ubur ini di perairan Jepang, Brazil dan Argentina.


7, Moon Jellyfish.
Ubur-ubur yang memiliki banyak nama ini merupakan salah satu ubur-ubur tercantik dan sudah terkenal di Dunia.
Dengan tampilan yang terlihat tembus pandang menambah kecantikan dari Moon Jellyfish. namun, Moon Jellyfish jenis ubur-ubur yang tidak dapat bertahan lama untuk hidup, dan akan mati beberapa bulan setelah ber reproduksi.

FAKTA UNIK PLATYPUS



Platipus atau bernama latin Ornithorhynchus anatinus adalah hewan semi-akuatik yang banyak ditemui di bagian timur benua Australia. Walaupun platipus bertelur, tetapi mereka tergolong ke dalam kelas mamalia, karena menyusui anaknya. Meski terlihat unik dan menggemaskan, faktanya platipus ternyata merupakan hewan beracun. berikut adalah fakta unik platipus.


1, Paruh platipus adalah indra keenam.
Paruh platipus mempunyai kemampuan elektroreseptor dan mekanoreseptor, alias pendeteksi aliran listrik dan pendeteksi gerakan. Karena itu, platipus tetap dapat mendeteksi gerakan di dasar sungai berlumpur. 


2, Mamalia yang bertelur.
Meski bertelur, platipus tergolong mamalia, karena menyusui anaknya. Istilah mamalia berasal dari bahasa latin mamma, yang berarti payudara. Namun tidak melalui payudara, platipus menyusui anaknya melalui perutnya. Jantan Platipus tidak berperan dalam membesarkan keturunan setelah kawin. Betina melahirkan telur selama dua hingga empat minggu diikuti oleh minggu inkubasi lagi.
Begitu mereka menetas, anak langsung menghisap susu khusus selama beberapa bulan sebelum mereka menjadi mandiri.


3, Platipus hewan yang beracun.
Platipus memiliki taji yang beracun. Platipus jantan mengeluarkan racun melalui taji pergelangan kaki, sementara betina tidak berbisa. Racunnya terdiri dari protein mirip defensin. Racunnya bisa sangat melukai namun tidak membunuh manusia, meski bisa mematikan bagi hewan yang lebih kecil.


4, Platipus tidak mempunyai gigi dan lambung.
Platipus tidak mempunyai gigi, dan mereka tidak memiliki kantung enzim pencernaan atau asam untuk memecahnya. mereka makan dengan cara menelan makanannya bersamaan dengan batu-batu kecil. Mereka muncul ke permukaan untuk mencari udara dan mulai mengunyah dengan menggiling kerikil dan mangsanya bersama-sama. Jenis makanan platypus, yakni cacing, udang, dan hewan kecil yang hidup di dasar sungai.


5, Platipus sempat dikira bukan hewan sungguhan.
Platipus memiliki bentuk tubuh seperti gabungan dari bebek dan berang-berang. Bahkan George Shaw, naturalis abad 19 yang pertama menemukan platipus mengakui, platipus secara natural mirip seperti hewan buatan, karena Secara fisik, penampilan platipus tergolong unik, seperti paruh dan kaki bebek, namun tubuh, ekor, dan bulu berbentuk berang-berang.

CANDI CANDI PENINGGALAN KERAJAAN MATARAM KUNO


 

Kerajaan mataram kuno, atau kerajaan medang adalah kerajaan yang berdiri di Jawa Tengah pada abad ke-8, kemudian berpindah ke Jawa Timur pada abad ke-10 Masehi, yang didirikan oleh Sanjaya. Kerajaan ini terkenal dengan seni dan arsitektur Jawa klasik yang tercermin dalam pertumbuhan pesat pembangunan candi, yang menghiasi lanskap kerajaan mataram. Berikut adalah beberapa candi peninggalan kerajaan mataram kuno.

1, Candi Kalasan.

Candi Kalasan atau Candi Kalibening merupakan sebuah Bangunan Cagar Budaya yang dikategorikan sebagai candi umat Buddha. Candi ini terletak di Sleman, Yogyakarta. Candi ini memiliki 52 stupa, dan berada sekitar 2 km dari candi Prambanan. Pada awalnya hanya candi Kalasan ini yang ditemukan pada kawasan situs ini, namun setelah digali lebih dalam maka ditemukan lebih banyak lagi bangunan bangunan pendukung di sekitar candi ini. Selain candi Kalasan dan bangunan - bangunan pendukung lainnya ada juga tiga buah candi kecil di luar bangunan candi utama, berbentuk stupa.

2, Candi Sambisari.

Candi Sambisari adalah candi Hindu Siwa yang berada di Sleman, Yogyakarta. Posisinya kira-kira 4 km sebelah barat kompleks Candi Prambanan.

Candi ini diperkirakan dibangun pada dekade awal abad ke-9 pada masa pemerintahan Raja Rakai Garung yang berkuasa di Kerajaan Mataram Kuno dari Wangsa Syailendra. Perkiraan ini didasarkan pada gaya tulisan lempengan emas yang ditemukan tahun 1977, di kompleks candi ini, serta informasi dari prasasti Wanua Tengah III yang menyebutkan bahwa Rakai Garung memerintah Medang pada awal abad ke-9. Kompleks candi dikelilingi oleh dua lapis pagar batu. Pagar luar berdimensi 50 meter kali 48 meter, berupa pagar batu rendah. Lapisan pagar dalam, terbuat dari batu berketinggian 2 meter dengan tebal 50 cm. Di dalam pagar berdiri candi utama didampingi oleh tiga Candi Pendamping.

3, Candi Plaosan.

Candi Plaosan adalah sebutan untuk kompleks percandian yang terletak di Klaten, Jawa Tengah. Candi ini terletak kira-kira 1km ke arah timur-laut dari Candi Sewu atau Candi Prambanan. Adanya kemuncak stupa, arca Buddha, serta candi-candi pendamping yang berbentuk stupa, menandakan bahwa candi-candi tersebut adalah candi Buddha. Kompleks ini dibangun pada abad ke-9 oleh Raja Rakai Pikatan dan Sri Kahulunan pada zaman Kerajaan Medang. Kompleks Candi Plaosan terdiri atas Candi Plaosan Lor dan Candi Plaosan Kidul. Pada masa lalu, Kompleks percandian ini dikelilingi oleh parit berbentuk persegi panjang. Sisa struktur tersebut masih bisa dilihat sampai saat ini di bagian timur candi.

4, Candi Sari.

Candi Sari atau juga disebut Candi Bendah, adalah candi Buddha yang berada tidak jauh dari Candi Sambisari, Candi Kalasan dan Candi Prambanan, yaitu di bagian sebelah timur laut dari kota Yogyakarta. Candi ini dibangun pada sekitar abad ke-8 dan ke-9 pada saat zaman Kerajaan Mataram Kuno dengan bentuk yang sangat indah. Pada bagian atas candi ini terdapat 9 buah stupa seperti yang tampak pada stupa di Candi Borobudur, dan tersusun dalam 3 deretan sejajar.

Bentuk bangunan candi serta ukiran relief yang ada pada dinding candi sangat mirip dengan relief di Candi Plaosan. Beberapa ruangan bertingkat 2 berada persis di bawah masing-masing stupa, dan diperkirakan dipakai untuk tempat meditasi bagi para Biksu pada zaman dahulunya. Candi Sari pada masa lampau merupakan suatu Vihara Buddha, dan dipakai sebagai tempat belajar dan berguru bagi para biksu.

5, Candi Ratu Boko.

Situs Ratu Boko atau Istana Raja Baka adalah situs purbakala yang merupakan kompleks sejumlah sisa bangunan yang berada kira-kira 3 km di sebelah selatan dari kompleks Candi Prambanan. Situs Ratu Boko terletak di sebuah bukit pada ketinggian 196 meter dari permukaan laut. Luas keseluruhan kompleks adalah sekitar 25 hektare.

Situs ini menampilkan atribut sebagai tempat berkegiatan atau situs permukiman dan tempat tinggal raja. Ratu Boko diperkirakan sudah dipergunakan orang pada abad ke-8 pada masa Wangsa Sailendra dari Kerajaan Medang. Dilihat dari pola peletakan sisa-sisa bangunan, yang diduga kuat situs ini merupakan bekas keraton. Pendapat ini berdasarkan pada kenyataan bahwa kompleks ini bukan candi atau bangunan dengan sifat religius, melainkan sebuah istana berbenteng, dengan bukti adanya sisa dinding benteng dan parit kering sebagai struktur pertahanan. Sisa-sisa permukiman penduduk juga ditemukan di sekitar lokasi situs ini.

 


OKAPI HEWAN UNIK PERPADUAN ANTARA JERAPAH DAN ZEBRA



Benua Afrika terkenal akan keanekaragaman hewannya. Salah satu hewan menarik dan endemik dari Afrika ialah okapi, yang memiliki nama Latin Okapia jonstoni. Hewan ini sekilas tampak seperti zebra, tapi sebenarnya bukan.
Okapi juga sering disebut sebagai "unicorn dari Afrika" karena mereka nyaris tak pernah terlihat di alam bebas. Selain itu, ada beberapa fakta menarik tentang hewan nasional negara Republik Demokratik Kongo ini.


1, Mirip zebra, tetapi berkerabat dekat dengan jerapah.
Sekilas okapi tampak seperti perpaduan rusa dan zebra karena belang di tubuhnya. Akan tetapi, mereka sebenarnya merupakan kerabat dekat jerapah, dan satu-satunya yang masih hidup saat ini.
Sering disebut sebagai jerapah hutan, okapi memang tidak terlihat seperti hewan dengan leher panjang tersebut. Tubuhnya tidak terlalu tinggi karena habitatnya di hutan hujan, sehingga mudah untuk menjangkau daun pohon.
Meskipun demikian, ada beberapa persamaan okapi dengan jerapah. Di antaranya adalah okapi jantan memiliki bagian seperti tanduk yang bernama ossicone dan lidah yang panjang, layaknya jerapah.


2, Memiliki lidah panjang yang serbaguna.
Sama seperti jerapah, okapi memiliki lidah yang panjang dan berwarna gelap. Lidah okapi berwarna hitam keunguan dengan panjang yang dapat mencapai 30 cm. Lidah yang panjang tersebut dapat menggulung dan membantu okapi menjangkau dedaunan di wilayah hutan hujan.
Lidahnya yang panjang juga mereka gunakan untuk membersihkan bagian tubuh tertentu. Misalnya untuk membersihkan kelopak mata dan bahkan bagian telinganya. Selain itu, lidahnya dapat digunakan untuk mengusir serangga dari leher.


3, Belang-belang pada tubuhnya berguna untuk kamuflase.
Belang pada bagian belakang tubuh dan kaki okapi bukan tanpa fungsi. Belang tersebut membantu okapi untuk berkamuflase. Karena hidup di hutan hujan tropis yang lebat, garis-garis cokelat dan putih di tubuhnya akan membantunya berbaur dengan lingkungan. Pola-pola tersebut tampak seperti garis sinar matahari yang masuk melalui pepohonan.
Selain untuk berkamuflase, fungsi lain dari belang okapi ialah untuk membantu anaknya mengikuti induk agar tidak tersesat di hutan yang lebat. Hal yang menarik lainnya, sama seperti zebra, pola belang pada okapi berbeda dan unik pada setiap individu.


4, Kakinya dapat mengeluarkan senyawa khas.
Salah satu hal menarik dari okapi ialah keberadaan kelenjar bau pada kakinya. Mereka dikenal sebagai hewan berkelompok dan teritorial. Kelenjar bau tersebut dapat mengeluarkan senyawa seperti tar, untuk menandai wilayahnya dan memperingatkan okapi lainnya.
Selain itu, okapi jantan sering kali menggunakan air seni untuk menandai wilayah kekuasannya. Mereka terkenal berperilaku agresif jika ada okapi lain yang melewati wilayah kekuasannya. Selain itu, ia akan berusaha mengusir siapa pun yang melanggar batasnya, bahkan jika harus melibatkan perkelahian.

PENINGGALAN KERAJAAN SINGASARI


 


Salah satu kerajaan Hindu yang sangat berpengaruh dalam perkembangan sejarah Indonesia adalah kerajaan Singasari. Kerajaan Singasari didirikan oleh Ken Arok yang sekaligus menjadi raja pertama kerajaan tersebut. Kerajaan Singasari diyakini beribukota di wilayah Malang saat ini.

Meskipun sudah runtuh ratusan tahun yang lalu, peninggalan Kerajaan Singasari sampai saat ini masih banyak ditemukan. Peninggalan-peninggalan tersebut pun beragam, mulai dari candi sampai dengan prasasti. Berikut adalah daftar beberapa peninggalan Kerajaan Singasari yang masih tersisa sampai sekarang.

1, Arca Joko Dolog.

Arca Joko Dolog merupakan salah satu cagar budaya yang ada di Surabaya. Arca ini melambangkan perwujudan Raja Singhasari terakhir, Kertanagara. Adapun bentuk dan gestur yang menjadi karakteristik arca tersebut, merujuk kepada ciri-ciri Buddha Aksobhya.

Arca Joko Dolog dipahat oleh seseorang yang bernama Nada, dan pembuatannya dilakukan sekitar 3 tahun sebelum Raja Kertanegara meninggal karena dibunuh oleh tentara Jayakatwang adipati Gelang-gelang yang memberontak pada Singasari. Arca Joko Dolog memiliki panjang 166 cm, lebar 138 cm, serta tebal 105 cm. Arca Joko Dolog digambarkan dengan kepala gundul, serta dibuat dengan posisi duduk dan bersikap Bhumisparsa mudra, yang melambangkan memanggil bumi sebagai saksi, dimana tangan kiri berada di atas pangkuan, sedangkan tangan kanan menelungkup di atas lutut.

2, Arca Amoghapasa.

Arca Amoghapasa adalah patung batu paduka Amoghapāśa sebagai salah satu perwujudan Lokeswara sebagaimana disebut pada prasasti Padang Roco. Patung ini merupakan hadiah dari Kertanagara raja Singhasari kepada Tribhuwanaraja raja Melayu di Dharmasraya pada tahun 1286 Masehi. Pada bagian alas arca ini terdapat tulisan yang disebut prasasti Padang Roco, yang menjelaskan penghadiahan arca ini. Berita pengiriman arca Amoghapasa ini tertulis pada alas arca bertanggal 22 Agustus 1286. Sedangkan pada bagian belakang arca terdapat tulisan yang disebut dengan prasasti Amoghapasa bertarikh 1346 Masehi.

3, Candi Jago.

Nama Candi Jago sebenarnya berasal dari kata Jajaghu, yang didirikan pada masa Kerajaan Singhasari pada abad ke-13 sebagai penghormatan bagi Raja ketiga Singhasari, yaitu Wisnuwardhana. Jajaghu, yang artinya adalah keagungan, merupakan istilah yang digunakan untuk menyebut tempat suci. Candi ini berlokasi di Dusun Jago, sekitar 22 km dari Kota Malang. Walaupun dibangun pada masa pemerintahan Kerajaan Singasari, disebutkan dalam kedua kitab tersebut, bahwa Candi Jago selama tahun 1359 Masehi merupakan salah satu tempat yang sering dikunjungi Raja Hayam Wuruk dari Kerajaan Majapahit. Keterkaitan Candi Jago dengan Kerajaan Singasari terlihat juga dari pahatan teratai, yang menjulur ke atas dari bonggolnya, yang menghiasi tatakan arca-arcanya. Motif teratai semacam itu sangat populer pada masa Kerajaan Singasari.

4, Candi Singasari.

Candi Singasari merupakan candi Hindu Buddha peninggalan bersejarah dari Kerajaan Singasari yang berlokasi di Kelurahan Candirenggo, Kecamatan Singosari, sekitar 10 km dari Kota Malang. Candi ini merupakan tempat pendharmaan bagi raja Singhasari terakhir, Kertanegara, yang meninggal pada tahun 1292. Candi ini berada pada lembah di antara Pegunungan Tengger dan Gunung Arjuno pada ketinggian 512 meter di atas permukaan laut.

Cara pembuatan Candi Singasari ini menggunakan sistem menumpuk batu andesit hingga ketinggian tertentu, selanjutnya diteruskan dengan mengukir dari atas baru turun ke bawah.

5, Candi Sumberawan.

Candi Sumberawan merupakan salah satu candi yang memiliki bentuk yang sangat unik, yaitu hanya berupa sebuah stupa, berlokasi di Desa Toyomarto, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Dengan jarak sekitar 6 km dari Candi Singosari. Candi ini merupakan peninggalan Kerajaan Singhasari dan digunakan oleh umat Buddha pada masa itu. Candi ini dibuat dari batu andesit dengan ukuran panjang 6,25 meter, lebar 6,25 meter, dan tinggi 5,23 meter, dibangun pada ketinggian 650 meter di atas permukaan laut, di kaki bukit Gunung Arjuna. Pemandangan di sekitar candi ini sangat indah karena terletak di dekat sebuah telaga yang sangat bening airnya. Keadaan inilah yang memberi nama Candi Rawan.

6, Candi Jawi.

Candi Jawi adalah candi yang dibangun sekitar abad ke-13, dan merupakan peninggalan bersejarah Hindu-Buddha Kerajaan Singhasari yang terletak di kaki Gunung Welirang, tepatnya di Desa Candi Wates, Prigen, Pasuruan, Jawa Timur, sekitar 3 kilometer dari pusat kota Pandaan.

Candi ini terletak di pertengahan jalan raya antara Kecamatan Pandaan, Kecamatan Prigen dan Pringebukan. Candi Jawi banyak dikira sebagai tempat pemujaan atau tempat peribadatan Buddha, tetapi sebenarnya merupakan tempat pendharmaan atau penyimpanan abu dari raja terakhir Singhasari, Kertanegara. Sebagian dari abu tersebut juga disimpan pada Candi Singhasari. Kedua candi ini ada hubungannya dengan Candi Jago yang merupakan tempat peribadatan Raja Kertanegara.

7, Prasasti Padang Roco.

Prasasti Padang Roco adalah sebuah prasasti yang ditemukan pada tahun 1911, di hulu sungai Batanghari, kompleks percandian Padangroco, nagari Siguntur, Sumatra Barat. Prasasti ini merupakan sebuah alas arca Amoghapasa yang pada empat sisinya terdapat manuskrip. Prasasti ini dipahatkan 4 baris tulisan dengan aksara Kawi dan memakai dua bahasa. Prasasti ini kini disimpan di Museum Nasional Indonesia di Jakarta. Prasasti ini berangka tahun 1208 Saka atau 1286 Masehi, yang merupakan hadiah dari raja singasari di Jawa untuk rakyat dan Raja Kerajaan Melayu Dharmasraya di Sumatra.

8, Prasasti Wurare.

Prasasti Wurare adalah sebuah prasasti yang isinya memperingati penobatan arca Mahaksobhya di sebuah tempat bernama Wurare. Prasasti ditulis dalam bahasa Sansekerta menggunakan aksara Jawa Kuno dan bertarikh 1211 Saka, atau 21 November 1289. Arca Buddhis yang oleh masyarakat juga disebut Joko Dholog tersebut sebagai penghormatan dan perlambang bagi Raja Kertanegara dari kerajaan Singhasari, yang dianggap oleh keturunannya telah mencapai derajat Jina. Tulisan prasasti terletak di alas arca tersebut, yang ditulis melingkari bagian sampingnya. Prasasti berbentuk sajak 19 bait, yang di antaranya menceritakan tentang seorang pendeta sakti bernama Arrya Bharad, yang membelah tanah Jawa menjadi dua kerajaan dengan air ajaib dari kendinya, sehingga masing-masing belahan menjadi Janggala dan Pangjalu. Pembelahan dilakukan untuk menghindari perang saudara antara dua pangeran yang ingin berperang memperebutkan kekuasaan.

Arca mulanya ditemukan di daerah Kandang Gajak yang termasuk dalam wilayah desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Pada tahun 1817, arca dipindahkan ke Surabaya, dan saat ini terdapat di Taman Apsari, dekat pusat Kota Surabaya, Jawa Timur.