KATAK BERHIDUNG PANJANG SEPERTI PINOKIO


 
Meskipun penelitian menyebutkan kalau saat ini ada banyak hewan yang terancam punah, namun hewan spesies baru juga banyak ditemukan.
Seperti pada ekspedisi yang dilakukan oleh beberapa orang ilmuwan ke Papua Nugini, dan menemukan tidak hanya satu, tapi 3 spesies hewan yang baru.
Tiga spesies hewan yang baru ditemukan oleh para peneliti ini adalah katak pohon, yang salah satunya adalah spesies katak pinokio.

Kalau dilihat secara sekilas, katak pinokio terlihat seperti katak pohon pada umumnya.
Namun setelah diamati, katak pinokio yang punya nama ilmiah Litoria pinnochio, memiliki ciri khas pada bagian hidungnya.
Seperti namanya, katak pinokio punya tonjolan panjang pada hidungnya, yang terlihat seperti hidung Pinokio yang panjang.
Tonjolan tadi adalah daging kecil yang tumbuh menonjol sekitar 2,5 milimeter dari hidungnya.
Selain katak pinokio, peneliti juga menemukan spesies katak pohon lainnya yang diberi nama monyet nakal.


Katak dengan nama ilmiah Litoria vivissimia, yang jika diterjemahkan menjadi 'monyet nakal' ini juga punya tonjolan yang sama seperti katak pinokio.
Uniknya, meskipun peneliti sudah mencari katak ini sebanyak puluhan kali, tapi baru kali ini para peneliti menemukan katak monyet nakal di Papua Nugini.
Para peneliti menganggap kalau katak monyet nakal ini tidak dapat ditemukan, dan justru menertawakan peneliti dari atas pohon.
Inilah sebabnya katak Litoria vivissimia diberi nama 'monyet nakal' karena bersembunyi di atas pohon dari para peneliti yang mencarinya.
Walaupun katak pinokio dan katak monyet nakal bukan katak pohon pertama yang ditemukan dengan hidung menonjol, tapi ukuran dan strukturnya sangat beragam di seluruh keluarga spesies Litoria.
Fungsi dari hidung panjang yang dimiliki oleh katak pinokio, dan katak monyet nakal sampai saat ini belum diketahui secara pasti.
Namun diperkirakan hidung panjang dua spesies katak ini berfungsi untuk mencari pasangan dan berkamuflase.


Spesies ketiga dari katak pohon yang ditemukan oleh para peneliti, adalah katak 'parasut'.
Katak ini diberi nama katak parasut karena habitatnya yang tinggal di puncak pohon, dan sering melompat ke udara.
Saat katak paraSut melompat dari pohon, ia akan melebarkan kakinya yang berselaput untuk mengendalikan lompatannya ke cabang-cabang pohon, atau permukaan tanah di sekitarnya.
Nah, karena kebiasaannya inilah, para peneliti menamai katak parasut dengan nama ilmiah Litoria pterodactyla.


Nama pterodactyla diambil dari pterodactyl, yaitu spesies reptil terbang pertama yang berhasil diidentifikasi.
Tiga spesies baru katak pohon ini ditemukan di Papua Nugini, yang juga berbatasan dengan Indonesia.
Meskipun peneliti tidak menganggap Papua Nugini sebagai surganya para katak, namun jumlah katak per area, yang ada di Papua Nugini sama dengan jumlah katak yang ada di hutan Amazon.